<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yustina "Sherly" Shirliana Melati 056690</title>
	<atom:link href="http://yustina.blog.upi.edu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yustina.blog.upi.edu</link>
	<description>Pendidikan Ilmu Komputer</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Oct 2009 14:08:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>“OPTIMALISASI DAN PENERAPAN MEDIA RADIO DALAM PENDIDIKAN”</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/%e2%80%9coptimalisasi-dan-penerapan-media-radio-dalam-pendidikan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/%e2%80%9coptimalisasi-dan-penerapan-media-radio-dalam-pendidikan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 13:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan seminar]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[optimalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/%e2%80%9coptimalisasi-dan-penerapan-media-radio-dalam-pendidikan%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN
Media komunikasi adalah suatu media ataupun alat bantu yang digunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal.Salah satu alat komunikasi tersebut yaitu Radio menjadi media pendidikan yang berguna bagi semua bentuk yang berhubungan dengan pendidikan,karena dapat memperkaya pengalaman pendidikan dan jug aide-ide yang kreatif.Dengan demikian ,alat ini memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAB I<br />
PENDAHULUAN<br />
Media komunikasi adalah suatu media ataupun alat bantu yang digunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal.Salah satu alat komunikasi tersebut yaitu Radio menjadi media pendidikan yang berguna bagi semua bentuk yang berhubungan dengan pendidikan,karena dapat memperkaya pengalaman pendidikan dan jug aide-ide yang kreatif.Dengan demikian ,alat ini memiliki potensi dan kekuatan yang berpengaruh dalam pendidikan.<br />
Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada penyediaan meda cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu ntuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas.Selain itu,dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan<br />
dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas pula.<br />
RUMUSAN MASALAH :<br />
1.	Pengertian media dan kegunaan.<br />
2.	Karakteristik Media radio.<br />
3.	Mengapa perlu media (radio) dalam proses pembelajaran ?<br />
BAB II<br />
PEMBAHASAN<br />
1.Pengertian Media dan Kegunaan<br />
Kata media berasal dari bahasa Latin yang adalah bentuk jamak dari medium batasan mengenai pengertian media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran.<br />
Secara umum media Radio mempunyai kegunaan:<br />
1. memperjelas pesan yang diterima.<br />
2. mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.<br />
3. menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid<br />
dengan sumber belajar.<br />
4. memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan<br />
auditori &amp; kinestetiknya.<br />
5. memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman &amp;<br />
menimbulkan persepsi yang sama.<br />
Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp and Dayton, 1985:<br />
1. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar<br />
2. Pembelajaran dapat lebih menarik<br />
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori<br />
belajar<br />
4. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek<br />
5. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan<br />
6. Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun<br />
diperlukan<br />
7. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses<br />
pembelajaran dapat ditingkatkan<br />
8. Peran guru berubah kearah yang positif<br />
Bahwa lembaga penyiaran (radio) merupakan media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi yang seimbang dan setimpal di masyarakat, memiliki kebebasan dan tanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol serta perekat sosial.<br />
2.Karakteristik Media radio.<br />
Radio memiliki karakteristik yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia ,karena memberikan banyak kontribusi yang besar bagi perkembangan komunikasi massa.karakteristik radio memberikan manfaat yang unik,baik ditinjau dari sisi kelebihan maupun kekurangannya.Dengan memahami kekuatan dan kelemahan adio,penyiar dapat merencanakan konsep implementasi untuk menghasilkan produksi siaran yang lebih efektif dan efisien dalam bukunya Media Fark Book-KBP,Pedroche,Toledo &amp; Montila mengucapkan bahwa karakteristik radio memberikan manfaat yang unik,diantaranya:<br />
a.	Menarik majinasi.<br />
b.	Cepat,radio merupakan alat informasi yang efisien dan tanpa banding.<br />
c.	Mudah dibawa<br />
d.	tidak memerlukan kemampuan membaca/menulis.<br />
e.	tidak memerlukan konsentrasi yang penuh dari pendengarnya<br />
f.	Cukup murah<br />
g.	mudah digunakan dan pengoperasiannya.<br />
Seperti media yang lainnya radio juga memiliki keterbatasan yakni bahwa radio hanya sebuahmedia buta.Sekalipun radio disebut media buta karena hanya berupa suara,namun suara merupakan sebuah instrumen yang penting yang perlu dikaji lebih mendalam.<br />
4.     Media radio dalam proses pembelajaran<br />
Mengapa perlu media dalam pembelajaran? Pertanyaan yang sering muncul mempertanyakan pentingnya media dalam sebuah pembelajaran.Kita harus mengetahui dahulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran,karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi,penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata&amp; tulisan) maupun non-verbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding.<br />
Ada kalanya penafsiran berhasil, adakalanya tidak.Kegagalan/ketidakberhasilan dalam memahami apa yang didengar, dibaca,dilihat atau diamati. Kegagalan/ketidakberhasilan atau penghambat dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Semakin banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima.radio menjadi media pendidikan yang berguna bagi semua bentuk pendidikan ,karena memperkaya pengalaman pendidikan dan ide-ide yang kreatif.Dengan demikian ,alat ini memiliki potensi dan kekuatan yang berpengaruh dalam pendidikan.masalah penggunaannya tergantung bagaimana filsafat pendidikan yang dianut , dan kesadaran atas potensi yang dimaksud tadi.<br />
Nilai Radio bagi Pendidikan diantaranya :<br />
a)      Memberikan berita yang ter up-to-date.<br />
b)      Menarik Minat.<br />
c)      Beritanya Autentik<br />
d)      Berdasar pada kenyataan<br />
e)      Mempunyai tinjauan yang luas.<br />
f)       Memberikan gambaran yang jelas.<br />
g)      mendorong kreatifitas<br />
h)      Integrasi dan diskriminasi<br />
maksudnya radio berpengaruh terhadap pembentukan pribadi seseorang,menimbulkan social adjustment dan ini penting bagi pembentukan seorang warga Negara yang baik,selain itu juga mendidik sisea untuk dapat mendeskriminasikan persoalan-persoalan dalam masyarakat.radio mendorong manusia berfikir rasional dan komparatif.<br />
BAB III<br />
PENUTUP<br />
Semakin sadarnya orang ataupun masyarakat akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual.Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada penyediaan media cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas.Selain itu,dengan<br />
semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta<br />
diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas pula.<br />
Bahwa lembaga penyiaran (radio) merupakan media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi yang seimbang dan setimpal di masyarakat, memiliki kebebasan dan tanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol serta perekat sosial.<br />
Daftar Pustaka :<br />
– Harley Prayudha,Drs..Msi.”Radio:Penyiar It’s Not Just A Talk”,Bayu media Publishing,Malang.2006<br />
– http://teknologipendidikan.wordpress.com“ Prinsip Pengembangan Media Pendidikan“<br />
download jam.19.30 WIB.<br />
– Oemar Hamalik.Dr.”Media Pendidikan“Citra Aditya bakti.Bandung.1989</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/%e2%80%9coptimalisasi-dan-penerapan-media-radio-dalam-pendidikan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PARADIGMA RADIO PENDIDIKAN DI ERA GOBALISASI</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/paradigma-radio-pendidikan-di-era-gobalisasi/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/paradigma-radio-pendidikan-di-era-gobalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 13:48:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan seminar]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/paradigma-radio-pendidikan-di-era-gobalisasi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Fandy Aldian Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Artinya bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Dalam UU No. 2/1989 bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Fandy Aldian Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY<br />
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Artinya bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Dalam UU No. 2/1989 bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan<br />
Tugas pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, namun dalam mencapai tujuan tersebut banyak mengalami masalah di antaranya geografis. Kondisi demikian berakibat tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak terutama di pedalaman. Media massa merupakan alternatif untuk pendidikan saat ini, media massa yakni proses komunikasi melalui media massa, adapun media massa itu adlah surat kabar, majalah, radio, televisi, atau film dan internet<br />
Radio merupakan salah satu di antara alat komunikasi massa. Seperti media massa lain, radio pun mempunyai fungsi sebagai alat pemberi informasi. Pemilihan media radio didasarkan kemampuan media ini dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan jarak jauh dan waktu yang lebih cepat, serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media yang lain<br />
SEJARAH DITEMUKANNYA RADIO<br />
Perkembangan radio merupakan revolusi dibidang telekomunikasi, sebelumnya komunikasi diklakukan melalui telepon dan telegraf yang dihubungkan melalui kabel, sedangkan melalui radio komunikasi wireless (tanpa kabel) dapat dilakukan. Radio seperi penemuan yang lain ditemukan melalui berbagai eksperimen dari banyak orang.<br />
Pada tahun 1800, seseorang Profesor dari Universitas Princeton yang bernama Yoseph henry dan dan seorang fisikawan inggris yang bernama Michael Faraday bereksperimen dengan elektromagnet, dan menemukan teori induksi. Pada tahun 1864, James Clark Maxwell, seorang fisikawan Inggris yang lain, mencoba mengembangkan teori induksi yang dihubungkan dengan kecepatan cahaya. Bunyi teori maxwell adalah : Karena perubahan medan magnet dapat menimbulkan medan listrik, maka sebaiknya perubahan medan listrikpun akan dapat menimbulkan medan magnet. Akan tetapi maxwell belum dapat membuktikan hipotesanya selama hidupnya. Orang yang pertama kali menguji hipotesa. Maxwell mengenai gelombang elektro magnetic ini adalah Heinrich hertz, seorang fisikawan Jerman. Ia berhasil membuktikan teori Maxwell pada tahun 1880, dengan menggunakan kumparan Ruhmkorf. Pada tahun 1895, Guglielmo marconi, seorang penemu dari Italia, mengkombinasikan teori-teori yang sudah ada (tentang elektromagnetik) dengan idenya sendiri. Ia adalah orang pertama yang menirimkan sinyal radio melalui udara. Ia menggunakan gelombang elektro magnetic untuk mengirim kode sinyal telegraf dalam jangkauan lebih dari 1,5 Km.<br />
Pada tahun 1901, radio temuan marconi mengirim sinyal kode menyebrangi samudra atlantik dari Inggris ke Newfoundland. Sekitar tahun 1900, para penemu mencoba mengembangkan alat yang dinamakan “vacuum tube” yang digunakan untuk mendeteksi dan memperluas sinyal radio. Lee de forest, seorang penemu dari Amerika mempatenkan lampu Vakum temusnya yang di kenal dengan triode atau audion pada tahun 1907. Penemuan ini dapat menyiarkan dari gelombang yang masuk. Kemudian, karena pecahnya perang dunia satu, perkembangan radio menjadi agak terhambat karena siapapun tidak diizinkan untuk mengusahakan siaran radio sampai tahun 1919. Setahun sebelumnya yaitu pada tahun 1918, Edwin H Amstrong dari Universitas Kolombia mengembangkan alat penerima gelombang radio, yang biasa disebut Super heterodyne circuit. Kemudian pada tahun 1993 ia memperkenalkan sistem frequency modulation untuk menyempurnakan isitem sebelumnya ( Amplitudo Modulation )<br />
Kelebihan sistem FM ( frequency modulation ) dibandingkan dengan AM adalah<br />
1. dapat menghilangkan inreferensi atau gangguan oleh gelombang radio lain<br />
2. menghilangkan gangguan berisik oleh pengaruh cuaca seperti petir dan hujan<br />
3. menghasilkan suara yang lebih jernih<br />
Pada saat itu kegunaan utama dari radio adalah sebagai alat komunikasi antara kapal satu dengan kapal lain, juga antara kapal daratan dengan daratan.<br />
Tetapi sistem FM juga memiliki kekurangan yaitu jangkauan yang kurang luas. Maka untuk memperluas jangkauannya tranmitter FM harus diletakkan ditempat yang sangat tinggi dan dihubungkan oleh station penghubung.<br />
Pada saat itu kegunaan utama dari radio adalah sebagai alat komunikasi antara kapal satu dengan kapal lain, juga antara kapal daratan dengan daratan Disini kita bisa melihat betapa besar manfaat dari radio, seperti pada penyelamatan kapal yang tenggelam, komunikisi bila arah haluan kapal menyimpang dari yang telah ditentukan. kita tahu pada saat tenggelamnya kapal TITANIC pada tahun 1912, komunikasi untuk menyelamatkan penumpang juga dilakukan melalui radio. Penggunaan radio sebgai alat komunikasi semakin berkembang pada tahun 1930 yaitu sebagai komunikasi pada pesawat terbang, polisi dan militer.<br />
MASSA KEJAYAAN RADIO<br />
Pada tahun 1920 – 1950, radio menjadi sumber hiburan utama bagi keluarga. Di luar negeri radio menjadi pusat hiburan menyiarkan musik, drama, komedi dan lain-lain.<br />
Sedangkan di Indonesia dimanfaatkan untuk perjuangan mencapai kemerdekaan Radio siaran yang pertama kali ada di Indonesia adalah Bataviasche, Vereniging (BRV) yang berdiri di Jakarta tanggal 16 Juli 1925.<br />
Sejak saat itu di Indonesia banyak bermunculan radio-radio lain seperti Nederlandsch Indische Radio Oemroep Mij (NIROM) di Jakarta, Bandung dan Medan Di solo juga muncul Solosche Radio Vereniging (SRV) dan di Jogjakarta berdiri Matarasme Vereniging Voor Radio Omroep (MAVRO). SRV dapat dikatakan sabagai pelopor munculnya radio siaran yang diusahakan oleh pribumi asli.<br />
Pada zaman Jepang, siaran radio di Indonesia mengalami kemunduran. Semua radio disentralisasikan oleh jawatan khusus Hoso Kantriyoku. Siaran radio ini diarahkan demi kepentingan militer Jepang. Mengapa jepang melakukan sentralisir terhadap siaran radio yang ada? Hal ini terutama dilakukan untuk menutup-nutupi kekalahannya dalam perang dunia 2. Akan tetapi segi positifnya, jepang mengizinkan kesenian dan kebudayaan Indonesia berkembang melalui radio. Oleh karena itu pada jaman ini, kesenian dan lagu-lagu Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 11 September didirikanlah Radio Republik Indonesia ( RRI )<br />
Manfaat dari perkembangan radio di Indonesia antara lain :<br />
1.	Sebagai propaganda ( misal propaganda akan kalahnya Jepang pada PD II )<br />
2.	Sebagai media komunikasi<br />
3.	Sebagai media pendidikan dan pengembangan kebudayaan<br />
4.	Sebagai penyalur pendapat masyarakat<br />
5.	Sebagai media hiburan<br />
Radio, pada masa modern, mulai digantikan kedudukannya oleh televisi. Orang lebih menyukai televisi karena suatu acara terlihat lebih nyata. Namun demikian kita tidak boleh melupakan pentingnya jasa radio dalam mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia saat ini. Kita harus ingat bahwa pada jaman perjuangan, berita-berita dan komunikasi dengan dunia luar masih dilakukan melalui Radio. ( Raden Ahnaf Faqih Shaimy. Sejarah Ditemukannya Radio )<br />
RADIO PENDIDIKAN<br />
Pada dasaranya media yang banyak dipergunakan dalam proses belajar mengajar adalah media komunikasi, komunikasi dan pendidikan cukup erat kaitannya Radio adalah alat elektronik yang digunakan sebagai media komunikasi dan informasi. Melalui radio, seseorang dapat mengetahui dan memahami sesuatu<br />
Radio adalah suatu perlengkapan elektronik yang termasuk media audio yang hanya dapat memberikan rangsangan audio (pendengaran) saja. Melalui alat ini orang dapat mendengar siaran tentang berbagai peristiwa, kejadian penting dan baru, masalah-masalah dalam kehidupan serta acara hiburan yang menyenangkan.<br />
Karakteristk Radio<br />
1. Radio adalah SUARA.<br />
2. Radio adalah mass media yang paling mengena (digunakan oleh banyak orang).<br />
3. Radio dapat memberikan gambaran kepada para pendengarnya. Anda tidak perlu belajar untuk mengerti/memahami cerita yang kita sajikan. Kita memiliki kesamaan dengan tradisi yang ada dalam menyajikan berita dibanding dengan cara kerja jurnalistik di media cetak.<br />
4. Radio adalah alat yang akrab dengan pemiliknya. Anda jarang sekali duduk dalam satu grup dalam mendengarkan radio; tetapi biasanya mendengarkannya sendirian- di mobil, di dapur dan sebagainya.<br />
5. Radio adalah alat yang hangat dalam kaitannya dengan emosi pendengar. Campuran dari kata – kata, musik dan efek suara yang mampu mempengaruhi emosi.pendengar. Pendengar akan bereaksi atas kehangatan suara pembawa berita dan seringkali berfikir bahwa broadcaster adalah seorang teman bagi mereka.<br />
6. Radio adalah alat langsung. Radio dapat langsung membawa anda ke kejadian disekitar lingkungan anda ataupun dibagian lain di dunia, lebih cepat daripada koran ataupun TV. Radio yang disiarkan secara langsung dapat secara langsung memberikan informasi kepada anda tentang banjir, angin topan, kebakaran hutan, kemacetan lalu lintas ataupun berita politik lainnya.<br />
7. Radio adalah alat yang ringkas. Hal ini membuat pemiliknya merasa memiliki kawan dimanapun ia berada.<br />
8. Radio adalah alat yang cukup murah dan mudah.<br />
9. Radio adalah alat yang fliksibel. Seorang reporter dengan alat perekamnya ataupun melalui telepon dapat secara langsung menyampaikan berita yang ada di lapangan. Seorang broadcaster di studio dengan microphone dan control panelnya akan membawakan program beritanya.<br />
10. Radio dapat membidik sasaran yang tepat bagi pendengar tertentu dengan mengadakan program khususnya.<br />
11. Radio dapat memberikan berbagai macam bentuk “suara” seperti halnya orang – orang di jalan, bincang – bincang dan sebagainya. ( suara komunitas. Radio sebagai komunikasi)<br />
Radio sebagai media pendidikan<br />
Radio pendidikan adalah radio yang  memanfaatkan dunia pembelajaran, dimana pola atau ruang lingkup pembelajaran ialah pendidikan formal, nonformal, yang meliputi pembelajaran. Dengan format radio pendidikan dan informasi (jauh berbeda dengan siaran-siaran radio lain yang cenderung lebih besar<br />
porsinya kepada siaran hiburan), radio pendidikan mampu menarik perhatian audiens yang haus akan informasi yang obyektif<br />
dan berbobot. Misal dalam pelajaran baca tulis, radio berfungsi untuk menimbulkan motivasi untuk belajar baik sendiri maupun berkelompok, juga untuk memobilisasikan pendapat dan meningkatkan daya imajinasi anak<br />
Media audio/radio pembelajaran adalah suatu media yang menyampaikan pesan-pesan pendidikan/pembelajaran melalui cd atau disiarkan melalui station pemancar radio Menurut UU No. 32/2002 tentang penyiaran: ” Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan”.<br />
Ciri-ciri radio pembelajaran adalah sebagai berikiut :<br />
1.	Disajikan dalam CD/ kaset audio sehingga pengguna dapat mendengarkannya secara berulang-ulang<br />
2.	Dapat dimanfaatkan dikelas-kelas pembelajaran reguler, pendidikan jarak jauh, kelompok pendidikan luar sekolah, dan secara mandiri<br />
3.	Pembuatannya menggunakan prosedur pengembangan media pembelajaran<br />
( Makalah Sri wahyuni. Peningkatan media audio/radio pembelajaran.TEKNOLOGI PENDIDIKAN. FIP. UNY )<br />
Dapat dimengerti kalau radio menjadi media pendidikan dalam berbagai aspeknya. Karena media ini memang memiliki potensi dan kekuatan yang amat berpengaruh dalam dunia kependidikan. Radio sebagai pemberi informasi dan alat yang mendidik, muatan sajiannya dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, moral, dan akhlak seseorang. Radio pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan<br />
Kelebihan media radio pendidikan :<br />
1. Rapidity (tingkat kecepatan menyampaikan informasi cukup tinggi)<br />
2. Wide Coverage (jangkauan wilayah siarnya luas)<br />
3. Simultaneous (dapat dinikmati secara srentak dalam waktu yang sama)<br />
Mempunyai kemampuan mengembangkan imajinasi melalui audio<br />
4. Selektivitas dalam memilih program/segmen khalayak<br />
5. Fleksibilitas (dapat dibawa kemana-mana)<br />
6. Bersifat personal (hubungan yang terasa intim dengan penyiarnya<br />
7. Verbalisme (ada pengucapan, intonasi, diksi, dan lain-lain)<br />
8. Beyond emotion<br />
9. Sound and amoving image<br />
10. Show Performing Art<br />
11. Literacy (dapat dinikmati oleh khalayak yang buta huruf) ( A. Darmanto. Himpunan Materi Pelatihan Bidang Radio Siaran )<br />
Kekurangan media radio pendidikan :<br />
1. Auditif – Sekilas dengar<br />
2. Tidak dapat disimak ulang untuk memperjelas<br />
3. Tidak dapat menyajikan permasalahan yang kompleks (rumus matematika, fisika, kimia)<br />
4.. Tidak efektif untuk materi yang bersifat hitung-menghitung.<br />
5. Tidak dapat menggambarkan proses perubahan benda (Fisika, Kimia)<br />
6. Tidak bisa menyajikan materi secara mendalam<br />
7. Tergantung daya tarik penyajian program ( A. Darmanto . Program Pendidikan Sekolah Melalui radio)<br />
Dari beberapa kelemahan dan kekurangan tersebut, maka media radio dapat lebih bermanfaat lebih dibandingkan dengan media elektronik lainnya. Radio dapat memungkinkan untuk upaya menyukseskan pendidikan di dunia ini dengan menjadikan media radio sebagai media pendidikan bukan dijadikan sebagai media hiburan. Sehingga meia radio dapat dimanfaatkan oleh berbagai  publik yang haus akan informasi pendidikan atau pengetahuan.<br />
Fungsi Siaran Radio Pendidikan<br />
1. Meningkatkan kesadaran nasional warga Negara.<br />
2. Modernisasi nasional<br />
3. Suplemen bagi pendidikan sekolah<br />
4. Mempercepat penyampaian informasi baru tentang pendidikan kepada sekolah.<br />
5. Penyelenggaraan pendidikan bagi semua kalangan dengan isi yang sama untuk skala nasional.<br />
6. Menggantikan fungsi kehadiran guru profesional dan profesor.<br />
7. Menambah materi pengajaran dan bacaan buku,<br />
8. Modernisasi dalam penyampaian materi dan mengembangkan metode mengajar.<br />
9. Mengikuti pendidikan kembali bagi guru-guru.<br />
10. Mencukupkan informasi dan pendidikan bagi kelompok kecil.<br />
11. Membantu mereka yang tidak mampu melanjutkan sekolah karena tidak memiliki waktu dan keterbatasan ekonomi<br />
12. Persiapan belajar untuk menghadapi ujian nasional. ( A. Darmanto. Program Pendidikan Sekolah Melalui radio)<br />
RADIO PENDIDIKAN DIERA GLOBALISASI<br />
Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan, melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi, internet, dan lain-lain). Fenomena modern yang terjadi di awal milenium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi<br />
Saat ini dalam kondisi kencangnya arus globalisasi, terutama media elektronik, banyak terjadi proses ‘pendidikan’ berupa propaganda mengenai demokrasi ala Barat, atau tayangan-tayangan yang bersifat destruktif seperti tema kekerasan/sadis, pornografis dan acara-acara misteri yang melenceng dari tata nilai, kesopanan serta moral-etika dan akidah agama. Selain  itu, penyebaran narkoba serta gaya hidup permissif, matelialistis dan konsumptif yang membolehkan segala cara dan perbuatan apa saja yang bisa memuaskan kebutuhan lahir batin meskipun melanggar akidah agama dan nilai-nilai sosial budaya yang dianut masyarakat bangsa ini..<br />
Masalah kecanduan rokok, narkoba, minuman keras dan gaya hidup bebas (free sex) sekarang telah memasuki bukan saja dunia remaja dan ‘preman’, tetapi sejak siswa Taman Kanak-kanak, SD sampai ke bangku perguruan tinggi. Alangkah indahnya bila forum media pendidikan non formal seperti media cetak dan elektronik ramai-ramai menyuguhkan masukan dan informasi yang sarat dengan muatan pendidikan moral. Salah satunya adalah muatan-muatan berisi informasi dan ilmu serta teknologi mengenai penyelamatan dan pemeliharaan lingkungan, kesehatan serta bentuk rubrik, komik atau siaran yang menguntungkan dan meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan. ( Makna Pendidikan Dan Proklamasi NKRI. WASPADA Online)<br />
Sebagai akibatnya, media radio mengalami pergeseran teknologi, radio sebagai media yang berperan penting dalam sejarah kontemporer telah melalui masa-masa pasang surutnya hampir satu abad. Kini, radio dengan mudah kita temui di berbagai tempat. Namun datangnya media elektronik televisi, internet ( dunia mayacyber ) telah membuat radio kurang banyak peminat walaupun banyak kita temui radio diberbagai tempat.<br />
Kini, radio dihadapkan pada situasi yang berbeda. Meski teknologi radio mengalami kemajuan, namun media yang satu ini harus berhadapan dengan jenis media baru lainnya yang lebih menarik dan efektif. Televisi merupakan contoh media baru yang banyak menyedot perhatian publik. Selain televisi, internet merupakan pesaing terbaru radio. Dalam waktu yang relatif singkat, internet telah berhasil mengundang banyak peminat. Radio pendidikan khususnya terperosot karena munculnya berbagai teknologi-teknologi baru seperti televisi, dan internet yang menjadikan semua informasi dapat diakses langsung. Alhasil radio malah jadi terpingirkan atau kurang diperhatikan oleh publik karena kurangnya minat seseorang dan program-program yang dibuat monoton sehingga orang jenuh akan radio karena hanya media yang hanya memanfaatkan indera pendengaran saja.<br />
Faktor pendukung munculnya globalisasi antara lain : Berkembang pesatnya teknologi komunikasi dan adanya integrasi ekonomi dunia. ( Faktor-faktor pendukung munculnya globalisasi Ahmad Haikal )<br />
Media komunikasi menjadi alat yang paling banyak memberikan kontribusi dalam suatu proses globalisasi. Informasi disebarkan dengan sangat cepat sekali, terus menerus dan terstruktur. Dampak positif dari era globalisasi adalah teknologi berkembang pesat. baik teknologi informasi, komunikasi, maupun transportasi. Sehingga orang dapat berhubungan melewati batas-batas negara. Sedang aspek negatif Globalisasi<br />
ialah terjadinya kesenjangan ekonomi akibat dari kekalahan berkompetensi dalam bidang teknologi<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
- A. Darmanto. 2005.. Himpunan Materi Pelatihan Bidang Radio Siaran<br />
- http://indonesian.irib.ir Makna Pendidikan Dan Proklamasi NKRI. WASPADA Online.16 Juni 2008. pukul 14.20<br />
- Makalah Sri wahyuni. Peningkatan media audio/radio pembelajaran.TEKNOLOGI PENDIDIKAN. FIP. UNY<br />
- www.google.com. Faktor-Faktor Pendukung Munculnya Globalisasi<br />
Ahmad Haikal. 16 Juni 2008. pukul 14.20<br />
- Sumitro, dkk. ___.Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : FIP YOGYAKARTA<br />
- www.yahaoo.com. Radio Sebagai Media Komunikasi.Suara Komunitas. pukul 14.20<br />
- www.yahaoo.com. Radio Wireless oleh Raden Ahnaf Faqih Shaimy. 16 Juni 2008. pukul 14.20<br />
- www.yahaoo.com. Makna Pendidikan Dan Proklamasi NKRI. WASPADA Online. 16 Juni 2008. pukul 14.20</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/paradigma-radio-pendidikan-di-era-gobalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Radio dan Siaran Radio Pendidikan</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/media-radio-dan-siaran-radio-pendidikan/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/media-radio-dan-siaran-radio-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 13:44:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan seminar]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/media-radio-dan-siaran-radio-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[P4TK MATEMATIKA Depdiknas/YogaKKNPPL2008 :
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Posisi pendidikan pada saat ini bukan sebagai pelengkap dalam kehidupan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pokok. Artinya, dalam kehidupan berkeluarga pendidikan menjadi fokus dan prioritas utama dalam keluarga.
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Posisi pendidikan pada saat ini bukan sebagai pelengkap dalam kehidupan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pokok. Artinya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>P4TK MATEMATIKA Depdiknas/YogaKKNPPL2008 :<br />
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Posisi pendidikan pada saat ini bukan sebagai pelengkap dalam kehidupan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pokok. Artinya, dalam kehidupan berkeluarga pendidikan menjadi fokus dan prioritas utama dalam keluarga.<br />
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Posisi pendidikan pada saat ini bukan sebagai pelengkap dalam kehidupan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pokok. Artinya, dalam kehidupan berkeluarga pendidikan menjadi fokus dan prioritas utama dalam keluarga. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian akan terbentuk manusia yang mampu bersaing dalam dunia global saat ini yang memiliki kualitas serta intelegensi yang baik tentu pula tidak terlepas dari moral dan tingkah laku yang baik pula.</p>
<p>Menghadapi persaingan yang terbuka saat ini, tentunya semua orang ingin serba cepat dan praktis. Sehingga saat ini yang dipikirkan hanyalah hasil yang didapatkan bukan menikmati proses yang dikerjakan. Apalagi seperti masyarakat bangsa kita yang memilii etos kerja sangat rendah. Sampai timbul lelucon seperti ini : “Apa bedanya orang Jepang dan orang Indonesia?” jawabnya : “orang Jepang bekerja dengan keringat lalu istirahat (makan) dengan santai. Sedangkan orang Indonesia bekerja dengan santai dan istirahat (makan) sampai berkeringat. Tentunya lelucon diatas bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan bangsa sendiri, melainkan sebagai pemicu semangat agar nantinya akan muncul orang-orang Indonesia yang mampu berbicara dimata dunia.</p>
<p>Karena hal tersebutlah budaya instan dari luar mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Sekarang segala sesuatu mudah di dapatkan secara mudah, praktis, dan cepat. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet, dan masih banyak yang lainnya. Kemajuan teknologi tentunya menuai banyak manfaat dalam kehidupan kita. Tetapi, ada satu hal yang harus dihindari dengan adanya kemajuan ini, yaitu etos kerja dan semangat yang rendah. Karena segala sesuatu dapat dikerjakan secara cepat dan praktis.</p>
<p>Dari sekian banyak kemajuan teknologi yang ada, dunia pendidikan ikut terkena dampaknya. Sekarang kita perhatikan, anak-anak kecil yang seharusnya menikmati hari-harinya dengan bermain dan belajar sekarang terlihat duduk manis di depan sebuah kotak yang ajaib yang kita sebut televisi. Kotak tersebut telah menyihir anak-anak dengan tayangan yang tidak mendidik dan berkualitas. Selain itu, kemajuan dunia maya (internet) juga merubah sifat dan tingkah laku anak-anak. Sekarang tak dapat dipungkiri lagi, internet telah menyebar disetiap pelosok daerah. Memang, internet dibuat agar informasi dapat menyebar dengan cepat. Tetapi perlu diingat tanpa adanya pengawasan dan perhatian orang tua, anak-anak dengan mudah mengakses situs yang seharusnya bukan untuk seusia mereka.</p>
<p>Kemudian muncul pertanyaan di dalam diri kita. “Jika media yang memiliki teknologi canggih ada dampak buruknya bagi anak, dengan media apa yang bisa kita gunakan?”. Sebuah pertanyaan klasik yang tentunya ada dalam pikiran setiap orang. Pertanyaan kuno yang mungkin disepelekan oleh mereka yang tidak peduli dengan pendidikan. Hanya satu jawaban dari pertanyaan tersebut, yaitu radio.</p>
<p>Memang terlihat kuno, ketinggalan zaman, atau sebagainya begitu orang mendengar kata radio. Media yang sekarang mulai tertindas perannya dengan teknologi-teknologi terbaru. Media yang telah dilupakan perannya ketika manusia masih pada peradaban terdahulu. Bahkan sekarang hampir dipastikan tidak semua rumah memiliki radio. Sebuah kenyataan yang dilematis yang tentunya tidak kita inginkan, Namun begitulah adanya, orang telah melupakan peran dan fungsi dari radio.</p>
<p>Perlu diingat, sejak PD II, radio telah menunjukkan kekuatannya sebagai media pendidikan dalam arti luas, dan media komunikasi politik, termasuk pendidikan politik. Fungsi pokok media komunikasi massa termasuk radio yaitu meliputi pengamatan/pengawasan lingkungan (surveillance of the environment). Bagi masyarakat fungsi pokok radio sebagai sumber informasi, kemudian fungsi kedua, pengembangan konsensus. Konsensus terkait dengan sosialisasi atau fungsi pendidikan dalam arti luas. (M.Alwi Dahlan dalam situs http://www.pustekkom.go.id/teknodik/)</p>
<p>Sekarang mari kita buka lagi pikiran kita mengenai pemanfaatan radio dalam pendidikan. Namun sebelumnya kita ulas kembali apa itu radio. Pengertian “Radio” menurut ensiklopedi Indonesia yaitu penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frequensi kurang dari 300 GHz (panjang gelombang lebih besar dari 1 mm). Sedangkan istilah “radio siaran” atau “siaran radio” berasal dari kata “radio broadcast” (Inggris) atau “radio omroep” (Belanda) artinya yaitu penyampaian informasi kepada khalayak berupa suara yang berjalan satu arah dengan memanfaatkan gelombang radio sebagai media. Sedangkan menurut Versi Undang-undang Penyiaran no 32/2002 : kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.</p>
<p>Dengan adanya radio, seluruh informasi dapat disebarluaskan dalam waktu yang singkat, bahkan sampai dengan daerah yang belum terjangkau sekalipun oleh media lainnya. Jika kita melihat geografis bangsa ini, sekitar 70% penduduk Indonesia tinggal di desa, tetapi akses informasi dikuasai oleh masyarakat kota. Selain itu dari 5,5 juta oplah surat kabar yang terbit di Indonesia, 60% beredar di Jakarta; dan dari 40% (sekitar 2,2 juta) yang beredar di luar Jakarta, 70% beredar di kota, sedangkan untuk desa seluruh Indonesia hanya 660.000 examplar. Jika desa di Indonesia ada 63.000, berarti rata-rata tiap desa hanya mendapat jatah 10,4 examplar surat kabar. (A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio).</p>
<p>Lalu apakah cukup 10 examplar untuk dibaca oleh masyarakat satu desa? Apakah mungkin berita yang disampaikan langsung dimengerti oleh masyarakat? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka jawabnya hanya satu yaitu media yang tepat untuk daerah seperti itu tidak lain radio. Radio memang fenomenal bagi masyarakat desa. Apalagi untuk desa yang belum tersentuh sama sekali dengan kehidupan modern dan belum teraliri oleh listrik.</p>
<p>Kenapa radio begitu fenomenal? Tentu ada sebabnya. Radio memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh media lainnya. Menurut Dodi Mawardi, dalam situsnya (http://dodimawardi.wordpress.com) ada sembilan karakteristik media radio yaitu :<br />
• Theater of Mind (Media radio memiliki kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar).<br />
• Personal (Media radio mampu menyentuh pribadi pendengar).<br />
• Sound Only (Media radio hanya menggunakan suara dalam menyajikan informasinya).<br />
• At Once (Media radio dapat diakses cepat dan seketika).<br />
• Heard Once (Media radio di dengar secara sepintas).<br />
• Secondary Medium Half Ears Media (Media radio bisa menjadi teman dalam beraktifitas).<br />
• Mobile / Portable (Media radio mudah dibawa kemana saja).<br />
• Local (Media radio bersifat lokal, hanya di daerah yang ada frekuensinya).<br />
• Linear (Media radio tersusun secara sistematis).<br />
Selain dari sembilan karakteristik yang ada diatas dapat ditambahkan kekuatan/kelebihannya. Menurut A.Darmanto dalam tulisannya (Radio: Media yang terpinggirkan, mampukah membangun kota?) yaitu :<br />
• Rapidity (Tingkat kecepatan menyampaikan informasi cukup tinggi).<br />
• Wide Coverage (Jangkauan wilayah siarannya luas).<br />
• Simultaneous (dapat dinikmati secara serentak dalam waktu yang sama).<br />
• Illiteracy (dapat dinikmati oleh yang buta huruf).</p>
<p>Jika melihat karakteristik serta kekuatan yang dimiliki radio, tentunya tidak salah lagi jika kita memanfaatkan media radio ini dalam dunia pendidikan. Dengan adanya radio tentunya pembelajaran akan lebih menyenangkan. Anak-anak dapat menikmati kembali cerita atau dongeng melalui radio yang dengan karakteristiknya hanya “suara” akan mampu membangkitkan daya imajinasi anak itu sendiri. Selain itu, radio masih dipandang oleh para pemilik opini sebagai saluran yang mempunyai pendengar efektif (Redi Panuju, Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik, Bayumedia Publising, 2005).<br />
Artinya baik guru yang menyampaikan materi pembelajaran maupun siswa sebagai audiens bisa saling bertukar pendapat tentang materi pelajaran yang disampaikan. Radio juga menjujung tinggi perbedaan karakteristik pendengarnya. Tidak selamanya siaran melalui media radio terkesan formal. Melalui cerita-cerita tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri. Pendengar senang mendengarkannya, pesan yang akan disampaikan pun tersampaikan dengan baik.<br />
Adanya media radio pendidikan merupakan perkembangan baru yang memberi nuansa positif dalam penyebar luasan informasi pendidikan. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang program pendidikan akan meningkatkan kemauan masyarakat untuk terlibat dalam mensukseskan program-program pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Secara sederhana dapat kita sadari bahwa program siaran pendidikan dari media radio akan memberi pembelajaran kepada masyarakat pendengar yang akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat.</p>
<p>Setelah adanya radio sebagai media pendidikan, maka sebaiknya perlu adanya pengelolaan yang baik agar nantinya dapat tetap berjalan pada jalurnya. Keberhasilan dalam mutu Siaran Radio Pendidikan antara lain ditentukan kualitas manajemen. Karenanya program ini akan semakin efektif apabila dikelola secara ahli. Berbagai produk teknologi komunikasi/ informasi, termasuk di dalamnya media radio, memiliki ciri khas, yaitu menjanjikan kecepatan, ketepatan, kepraktisan dan kualitas dalam mencari, mengumpulkan menyeleksi, mengolah dan menyajikan informasi. Sesuai dengan ciri khas media radio sebagai salah satu produk teknologi elektronika maka menjadi keharusan bahwa manajemen yang diterapkan dalam penyelenggaraan siaran harus manajemen yang dinamis.</p>
<p>Pada umumnya para guru berpendapat bahwa siaran radio pendidikan bermanfaat menambah wawasan untuk mengajar, meski sebagian tidak mengetahui kalau hingga hari ini siaran tersebut masih mengudara. Bagaimana langkah ke depan agar siaran ini menjadi efektif?.</p>
<p>Menurut Rini Rahayu, (mahasiswa PPS Unnes, wacana Suara Merdeka 13 September 2005) ada beberapa langkah alternatif yang perlu ditegakkan agar siaran efektif yaitu :<br />
• Agar siaran radio rendidikan bisa didengar dan berhasil menjadi media peningkatan wawasan guru dalam proses belajar mengajar kepada peserta didik, Balai yang ditunjuk sebagai pengelola, hendaknya berperan aktif melaksanakan prinsip-prinsip organisasi terutama koordinasi kepada kelompok belajar agar selalu memonitor dan mengikuti siaran<br />
• RRI yang ditunjuk diantara beberapa media yang menyiarkan siaran radio pendidikan tidak ada salahnya jika senantiasa gencar memutar &#8220;promo acara&#8221; agar siaran ini dapat diketahui. Karena melakukan koordinasi dengan stakeholders dan instansi terkait merupakan bagian tugas dan fungsi dari RRI.<br />
• Untuk mendapatkan produksi paket siaran radio pendidikan yang berkualitas, pihak BPMR hendaknya tetap komit mengaktualisasikan prinsip dan fungsi manajemen yang dinamis, sehingga dapat dihasilkan mutu paket yang menarik, enak diikuti juga pesan yang disampaikan diterima, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka dalam mengefektifkan proses belajar &#8211; mengajar.<br />
• Sebagai pendidik idealnya menyadari dan beraplikasi terhadap pendidikan yang mempunyai konsep pendidikan sepanjang hayat sehingga mendengarkan dan mengikuti radio pendidikan merupakan kegiatan sebagai pengayaan.<br />
• Pihak-pihak yang terlibat dalam radio pendidikan hendaknya duduk bersama menentukan langkah terbaik agar diklat siaran ini dapat efektif.<br />
Jika fungsi dari media radio telah diketahui, serta banyak manfaat yang dapat diambil apalagi dengan adanya manajemen yang baik, maka kenapa tidak kita menggunakan radio sebagai media pendidikan melalui siaran radio pendidikan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/26/media-radio-dan-siaran-radio-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerapan Radio Streaming untuk Prodi Ilkom Universitas Pendidikan Indonesia</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/25/penerapan-radio-streaming-untuk-prodi-ilkom-universitas-pendidikan-indonesia/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/25/penerapan-radio-streaming-untuk-prodi-ilkom-universitas-pendidikan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 13:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[hasil seminar]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>
		<category><![CDATA[streaming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Bab I
Pendahuluan
Media komunikasi adalah suatu media ataupun alat bantu yang digunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal. Salah satu alat komunikasi tersebut yaitu Radio menjadi media pendidikan yang berguna bagi semua bentuk yang berhubungan dengan pendidikan, karena dapat memperkaya pengalaman pendidikan dan juga ide-ide yang kreatif. Dengan demikian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bab I<br />
Pendahuluan</strong></p>
<p>Media komunikasi adalah suatu media ataupun alat bantu yang digunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal. Salah satu alat komunikasi tersebut yaitu Radio menjadi media pendidikan yang berguna bagi semua bentuk yang berhubungan dengan pendidikan, karena dapat memperkaya pengalaman pendidikan dan juga ide-ide yang kreatif. Dengan demikian, alat ini memiliki potensi dan kekuatan yang berpengaruh dalam pendidikan.</p>
<p>Radio merupakan salah satu di antara alat komunikasi massa. Seperti media massa lain, radio pun mempunyai fungsi sebagai alat pemberi informasi. Pemilihan media radio didasarkan kemampuan media ini dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan jarak jauh dan waktu yang lebih cepat, serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media yang lain.</p>
<p>Memang terlihat kuno, ketinggalan zaman, atau sebagainya begitu orang mendengar kata radio. Media yang sekarang mulai tertindas perannya dengan teknologi-teknologi terbaru. Media yang telah dilupakan perannya ketika manusia masih pada peradaban terdahulu. Bahkan sekarang hampir dipastikan tidak semua rumah memiliki radio. Sebuah kenyataan yang dilematis yang tentunya tidak kita inginkan, Namun begitulah adanya, orang telah melupakan peran dan fungsi dari radio.</p>
<p><strong>RUMUSAN MASALAH </strong></p>
<p>1.	Pengertian radio dan radio streaming serta kegunaannya?<br />
2.	Karakteristik radio dan radio streaming?<br />
3.	Mengapa perlu radio streaming untuk prodi ilkom universitas pendidikan indonesia ?</p>
<p><strong>Bab II<br />
Pembahasan</strong></p>
<p>1.	 Pengertian radio dan radio streaming serta kegunaannya</p>
<p>Radio adalah alat elektronik yang digunakan sebagai media komunikasi dan informasi yang termasuk media audio yang hanya dapat memberikan rangsangan audio (pendengaran) saja. Melalui alat ini orang dapat mendengar siaran tentang berbagai peristiwa, kejadian penting dan baru, masalah-masalah dalam kehidupan serta acara hiburan yang menyenangkan.Bentuk radio sangat beragam tapi secara sederhana bisa dibagi kedalam dua bagian besar. Pertama radio sebagai alat penerima informasi yang kedua radio sebagai pemberi informasi istilah yang baku untuk yang kedua ini adalah stasiun radio. </p>
<p>Pengertian “Radio” menurut ensiklopedi Indonesia yaitu penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frequensi kurang dari 300 GHz (panjang gelombang lebih besar dari 1 mm).</p>
<p>Streaming adalah Istilah yang dipergunakan untuk mendengarkan siaran secara live melalui Internet. Berbeda dengan cara lain, yakni men-download file dan menjalankannya di komputer kita bila download-nya sudah selesai, dengan streaming kita dapat mendengarnya langsung tanpa perlu mendownload file-nya sekaligus. Ada bermacam-macam audio streaming, misalnya Winamp (mp3), RealAudio (ram) dan liquid radio. </p>
<p>Dengan kata lain radio streaming adalah radio yang bisa didengarkan lewat internet.</p>
<p>Secara umum Radio mempunyai kegunaan:<br />
1. memperjelas pesan yang diterima.<br />
2. mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.<br />
3. menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid<br />
dengan sumber belajar.<br />
4. memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan<br />
auditori &amp; kinestetiknya.<br />
5. memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman &amp;<br />
menimbulkan persepsi yang sama. </p>
<p>Dengan adanya radio, seluruh informasi dapat disebarluaskan dalam waktu yang singkat, bahkan sampai dengan daerah yang belum terjangkau sekalipun oleh media lainnya. Jika kita melihat geografis bangsa ini, sekitar 70% penduduk Indonesia tinggal di desa, tetapi akses informasi dikuasai oleh masyarakat kota. Selain itu dari 5,5 juta oplah surat kabar yang terbit di Indonesia, 60% beredar di Jakarta; dan dari 40% (sekitar 2,2 juta) yang beredar di luar Jakarta, 70% beredar di kota, sedangkan untuk desa seluruh Indonesia hanya 660.000 examplar. Jika desa di Indonesia ada 63.000, berarti rata-rata tiap desa hanya mendapat jatah 10,4 examplar surat kabar. (A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio).</p>
<p>2.	 Karakteristik radio dan radio streaming?</p>
<p>Karakteristk Radio</p>
<p>1. Radio adalah SUARA.<br />
2. Radio adalah mass media yang paling mengena (digunakan oleh banyak orang).<br />
3. Radio dapat memberikan gambaran kepada para pendengarnya. Anda tidak perlu belajar untuk mengerti/memahami cerita yang kita sajikan. Kita memiliki kesamaan dengan tradisi yang ada dalam menyajikan berita dibanding dengan cara kerja jurnalistik di media cetak.<br />
4. Radio adalah alat yang akrab dengan pemiliknya. Anda jarang sekali duduk dalam satu grup dalam mendengarkan radio; tetapi biasanya mendengarkannya sendirian- di mobil, di dapur dan sebagainya.<br />
5. Radio adalah alat yang hangat dalam kaitannya dengan emosi pendengar. Campuran dari kata – kata, musik dan efek suara yang mampu mempengaruhi emosi.pendengar. Pendengar akan bereaksi atas kehangatan suara pembawa berita dan seringkali berfikir bahwa broadcaster adalah seorang teman bagi mereka.<br />
6. Radio adalah alat langsung. Radio dapat langsung membawa anda ke kejadian disekitar lingkungan anda ataupun dibagian lain di dunia, lebih cepat daripada koran ataupun TV. Radio yang disiarkan secara langsung dapat secara langsung memberikan informasi kepada anda tentang banjir, angin topan, kebakaran hutan, kemacetan lalu lintas ataupun berita politik lainnya.<br />
7. Radio adalah alat yang ringkas. Hal ini membuat pemiliknya merasa memiliki kawan dimanapun ia berada.<br />
8. Radio adalah alat yang cukup murah dan mudah.<br />
9. Radio adalah alat yang fliksibel. Seorang reporter dengan alat perekamnya ataupun melalui telepon dapat secara langsung menyampaikan berita yang ada di lapangan. Seorang broadcaster di studio dengan microphone dan control panelnya akan membawakan program beritanya.<br />
10. Radio dapat membidik sasaran yang tepat bagi pendengar tertentu dengan mengadakan program khususnya.<br />
11. Radio dapat memberikan berbagai macam bentuk “suara” seperti halnya orang – orang di jalan, bincang – bincang dan sebagainya. ( suara komunitas. Radio sebagai komunikasi)<br />
Radio memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh media lainnya. </p>
<p>Menurut Dodi Mawardi, dalam situsnya (http://dodimawardi.wordpress.com) ada sembilan karakteristik media radio yaitu :<br />
• Theater of Mind (Media radio memiliki kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar).<br />
• Personal (Media radio mampu menyentuh pribadi pendengar).<br />
• Sound Only (Media radio hanya menggunakan suara dalam menyajikan informasinya).<br />
• At Once (Media radio dapat diakses cepat dan seketika).<br />
• Heard Once (Media radio di dengar secara sepintas).<br />
• Secondary Medium Half Ears Media (Media radio bisa menjadi teman dalam beraktifitas).<br />
• Mobile / Portable (Media radio mudah dibawa kemana saja).<br />
• Local (Media radio bersifat lokal, hanya di daerah yang ada frekuensinya).<br />
• Linear (Media radio tersusun secara sistematis).<br />
Selain dari sembilan karakteristik yang ada diatas dapat ditambahkan kekuatan/kelebihannya. Menurut A.Darmanto dalam tulisannya (Radio: Media yang terpinggirkan, mampukah membangun kota) yaitu :<br />
• Rapidity (Tingkat kecepatan menyampaikan informasi cukup tinggi).<br />
• Wide Coverage (Jangkauan wilayah siarannya luas).<br />
• Simultaneous (dapat dinikmati secara serentak dalam waktu yang sama).<br />
• Illiteracy (dapat dinikmati oleh yang buta huruf).</p>
<p>Jika melihat karakteristik serta kekuatan yang dimiliki radio, tentunya tidak salah lagi jika kita memanfaatkan media radio ini dalam dunia pendidikan. Dengan adanya radio tentunya pembelajaran akan lebih menyenangkan. Anak-anak dapat menikmati kembali cerita atau dongeng melalui radio yang dengan karakteristiknya hanya “suara” akan mampu membangkitkan daya imajinasi anak itu sendiri. Selain itu, radio masih dipandang oleh para pemilik opini sebagai saluran yang mempunyai pendengar efektif (Redi Panuju, Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik, Bayumedia Publising, 2005).</p>
<p>Artinya baik guru yang menyampaikan materi pembelajaran maupun siswa sebagai audiens bisa saling bertukar pendapat tentang materi pelajaran yang disampaikan. Radio juga menjujung tinggi perbedaan karakteristik pendengarnya. Tidak selamanya siaran melalui media radio terkesan formal. Melalui cerita-cerita tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri. Pendengar senang mendengarkannya, pesan yang akan disampaikan pun tersampaikan dengan baik.</p>
<p>Adanya media radio pendidikan merupakan perkembangan baru yang memberi nuansa positif dalam penyebarluasan informasi pendidikan. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang program pendidikan akan meningkatkan kemauan masyarakat untuk terlibat dalam mensukseskan program-program pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Secara sederhana dapat kita sadari bahwa program siaran pendidikan dari media radio akan memberi pembelajaran kepada masyarakat pendengar yang akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat.</p>
<p>Setelah adanya radio sebagai media pendidikan, maka sebaiknya perlu adanya pengelolaan yang baik agar nantinya dapat tetap berjalan pada jalurnya. Keberhasilan dalam mutu Siaran Radio Pendidikan antara lain ditentukan kualitas manajemen. Karenanya program ini akan semakin efektif apabila dikelola secara ahli. Berbagai produk teknologi komunikasi/ informasi, termasuk di dalamnya media radio, memiliki ciri khas, yaitu menjanjikan kecepatan, ketepatan, kepraktisan dan kualitas dalam mencari, mengumpulkan menyeleksi, mengolah dan menyajikan informasi. Sesuai dengan ciri khas media radio sebagai salah satu produk teknologi elektronika maka menjadi keharusan bahwa manajemen yang diterapkan dalam penyelenggaraan siaran harus manajemen yang dinamis.</p>
<p>Dan untuk mengakses radio streaming, computer yang disunakan harus dilengkapi dengan speaker dan terhubung dengan internet.</p>
<p>3.	 Radio streaming untuk prodi ilkom universitas pendidikan indonesia</p>
<p>Saya ingin membuat radio streaming untuk prodi ilkom universitas pendidikan indonesia karena prodi ilkom belum memilikinya. Saya ingin pembelajaran di prodi ilkom menjadi lebih berkualitas dan dapat dilakukan setiap saat.</p>
<p>Kita harus mengetahui dahulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran,karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi,penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata&amp; tulisan) maupun non-verbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding. </p>
<p>Ada kalanya penafsiran berhasil, adakalanya tidak.Kegagalan/ketidakberhasilan dalam memahami apa yang didengar, dibaca,dilihat atau diamati. Kegagalan/ketidakberhasilan atau penghambat dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Semakin banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima.radio menjadi media pendidikan yang berguna bagi semua bentuk pendidikan ,karena memperkaya pengalaman pendidikan dan ide-ide yang kreatif. Dengan demikian, alat ini memiliki potensi dan kekuatan yang berpengaruh dalam pendidikan.masalah penggunaannya tergantung bagaimana filsafat pendidikan yang dianut, dan kesadaran atas potensi yang dimaksud tadi.</p>
<p>Nilai Radio bagi Pendidikan diantaranya :<br />
a)      Memberikan berita yang ter up-to-date.<br />
b)      Menarik Minat.<br />
c)      Beritanya Autentik<br />
d)      Berdasar pada kenyataan<br />
e)      Mempunyai tinjauan yang luas.<br />
f)       Memberikan gambaran yang jelas.<br />
g)      mendorong kreatifitas<br />
h)      Integrasi dan diskriminasi </p>
<p>maksudnya radio berpengaruh terhadap pembentukan pribadi seseorang,menimbulkan social adjustment dan ini penting bagi pembentukan seorang warga Negara yang baik,selain itu juga mendidik sisea untuk dapat mendeskriminasikan persoalan-persoalan dalam masyarakat.radio mendorong manusia berfikir rasional dan komparatif. </p>
<p><strong>Bab III<br />
Penutup</strong></p>
<p>Kini, radio dihadapkan pada situasi yang berbeda. Meski teknologi radio mengalami kemajuan, namun media yang satu ini harus berhadapan dengan jenis media baru lainnya yang lebih menarik dan efektif. Internet merupakan contoh media baru yang banyak menyedot perhatian publik. Dalam waktu yang relatif singkat, internet telah berhasil mengundang banyak peminat. Radio pendidikan khususnya terperosot karena munculnya berbagai teknologi-teknologi baru seperti internet yang menjadikan semua informasi dapat diakses langsung. Alhasil radio malah jadi terpingirkan atau kurang diperhatikan oleh publik karena kurangnya minat seseorang dan program-program yang dibuat monoton sehingga orang jenuh akan radio karena hanya media yang hanya memanfaatkan indera pendengaran saja. Tapi dengan adanya radio streaming, radio dapat dapat didengarkan melalui internet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/10/25/penerapan-radio-streaming-untuk-prodi-ilkom-universitas-pendidikan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>tugas animasi</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/07/04/tugas-animasi/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/07/04/tugas-animasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 12:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[teknik multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[animasi]]></category>
		<category><![CDATA[multimedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://yustina.blog.upi.edu/files/2009/07/kuda.gif" alt="kuda" width="360" height="600" class="alignnone size-full wp-image-35" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/07/04/tugas-animasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembangan E-Learning Sebagai Media Pendukung Homeschooling</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/07/02/pengembangan-e-learning-sebagai-media-pendukung-homeschooling/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/07/02/pengembangan-e-learning-sebagai-media-pendukung-homeschooling/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 13:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[metode penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[proposal]]></category>
		<category><![CDATA[E-Learning]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[A.	Latar Belakang
Setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar anak yang menyenangkan. Kerapkali hal-hal tersebut tidak ditemukan para orangtua di sekolah umum. Oleh karena itu muncullah ide orangtua untuk “menyekolahkan” anak-anaknya di rumah. Dalam perkembangannya, berdirilah lembaga sekolah yang disebut sekolah-rumah (homeschooling) atau dikenal juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Latar Belakang</p>
<p>Setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar anak yang menyenangkan. Kerapkali hal-hal tersebut tidak ditemukan para orangtua di sekolah umum. Oleh karena itu muncullah ide orangtua untuk “menyekolahkan” anak-anaknya di rumah. Dalam perkembangannya, berdirilah lembaga sekolah yang disebut sekolah-rumah (homeschooling) atau dikenal juga dengan istilah sekolah mandiri, atau home education atau home based learning. Untuk membuat home schooling berjalan dengan baik dapat diterapkan dengan menggunakan E-Learning atau electronic learning yang memang telah  menjadi tren pada beberapa tahun terakhir.<br />
 Dalam sekolah biasa biasanya setelah infrastruktur dibangun dan ruang kelas online tersedia, maka dilaksanakanlah pelatihan dan sosialisasi dari sistem yang baru saja dibangun. Dalam pelatihan tersebut para staf pengajar akan diperkenalkan dengan ruang kelas virtual yang ada, termasuk bagaimana membuat kelas online, mengupload bahan ajar, melakukan pendaftaran siswa, proses evaluasi, dsb.<br />
Hadir dalam pelatihan tersebut dosen yang memiliki paradigma “lama” yang resisten terhadap perkembangan teknologi dan dosen yang berparadigma “baru” yang sangat tertarik dengan perkembangan teknologi. Dosen berparadigma lama menganggap bahwa mereka sudah tidak memiliki waktu lagi selain di kelas tatap muka, untuk melakukan hal-hal tambahan seperti belajar teknologi baru, membuka ruang kelas virtual untuk menjawab pertanyaan siswa, dan lain sebagainya. Sedangkan dosen berparadigma baru akan memberikan respon yang kuat, mereka sangat tertarik untuk dapat secepatnya menerapkan di kelasnya, dan mereka sangat antusias untuk mempelajari hal-hal baru.<br />
Hal tersebut diatas adalah hal yang lazim kita temui di Indonesia, dimana inovasi penerapan teknologi pendidikan sangat lamban terjadi. Keadaan ini memang harus dimaklumi mengingat kendala pemerataan teknologi dan minimnya dukungan pemerintah terhadap inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.<br />
Namun perlu diberikan penekanan, bahwa konsep dasar e-Learning adalah “pedagogi yang diperkuat oleh teknologi” (Wikipedia, 2009), sehingga guru harus berfikir tentang banyak aspek dari pedagogi dibanding kepada sisi teknologi saja. Artinya, guru haruslah memikirkan berbagai strategi pembelajaran agar efektif dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, dibandingkan dengan fokus mengajarkan teknologi baru ini kepada para siswanya. Karena teknologi disini hanyalah sebagai “alat bantu” untuk mendukung tujuan pembelajaran itu sendiri.</p>
<p>B.	Perumusan Masalah<br />
Bagaimana menjadikan e-learning sebagai media pendukung homeschooling?</p>
<p>C.	Tujuan Penelitian<br />
Menjadikan e-learning sebagai media pendukung homeschooling</p>
<p>D.	Kajian Pustaka</p>
<p>E-Learning<br />
E-Learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.</p>
<p>Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-Learning sebagai berikut :<br />
Pembelajaran jarak jauh.<br />
E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved.<br />
Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.<br />
Pembelajaran dengan perangkat komputer<br />
E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.</p>
<p>Pembelajaran formal vs. informal </p>
<p>E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-Learning untuk umum. E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya). </p>
<p>Berbagai Kekhasan dari E-Learning</p>
<p>Penerapan e-learning dalam proses pembelajaran di kelas, khususnya di Indonesia lebih cocok difungsikan sebagai komplemen dari pembelajaran tatap muka di kelas serta untuk menambah jam tatap muka di kelas. Berbagai keunikan dari e-Learning ternyata tidak hanya dari sudut pandang teknologi saja, namun lebih pada unsur pedagogis. Fakta dan keunikan yang menarik tersebut antara lain :<br />
•	Lewat pembelajaran mandiri (self-paced) yang ada dalam e-Learning, memberikan tantangan dan kesempatan kepada para siswa untuk belajar lebih cepat ataupun lambat. Hal ini dikarenakan dalam ruang kelas virtual telah tersedia berbagai sumber belajar dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir, dan siswa memiliki kesempatan belajar hal-hal baru diluar sesi yang tengah dijalaninya. Selain itu lewat belajar mandiri, siswa terbebas dari tekanan seperti halnya ketika mereka belajar di kelas, sehingga mereka akan mudah untuk belajar.<br />
•	Pembelajaran bersifat self-directed atau diarahkan sendiri, sehingga mereka dapat memilih konten dan perangkat yang sesuai pada minat, kebutuhan dan tingkat keterampilan yang ingin mereka dapatkan. Harapan dari proses seperti ini adalah siswa nantinya akan mampu dan percaya diri untuk mengambil inisiatif mandiri (proactive learner) dalam belajar dalam menentukan kebutuhan belajarnya, memformulasikan tujuan pembelajaran mereka, mengidentifikasi sumber belajar, mampu memilih dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sesuai serta mampu mengevaluasi hasil belajar mereka. (Malcolm Knowles, 1975)<br />
•	Mengakomodasi berbagai gaya belajar dan menggunakan berbagai cara penyampaian untuk berbagai tipe pembelajar yaitu tipe Visual lewat penggunakan gambar, grafik/diagram serta visual lain, tipe Aural lewat penggunaan musik dan suara, tipe Verbal lewat penggunaan kata dan pidato, tipe Physical dengan penggunaan badan, tangan dan sentuhan (ketika mereka menggunakan komputer dan alat bantu lain untuk belajar dan mengerjakan tugas), tipe Logical lewat penggunaan logika, alasan dan sistem, tipe Social (Intrapersonal) lewat belajar dalam kelompok dengan siswa lain, dan tipe Solitary lewat belajar mandiri.<br />
•	Siswa dapat belajar 24/7 (24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu) – kapan saja, dan dimana saja (asalkan tersedia koneksi Internet). Hal ini merupakan kelebihan e-Learning dimana siswa dapat belajar kapan saja dan dimana saja. Mereka dapat mengakses bahan ajar yang ada kapan saja, karena telah terupload dalam ruang kelas virtual.<br />
•	Mengembangkan kemampuan berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman lain lewat kerja kelompok serta meningkatkan frekuensi kontak antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa lainnya. Mereka serasa berdekatan dengan dosen dan rekan sejawatnya, karena mampu mengajukan pertanyaan (jika mengalami kesulitan) kepada dosennya kapan saja lewat fasilitas yang tersedia (misalnya Forum Diskusi). Karena tidak bertemu langsung dengan dosen, seringkali mereka justru lebih leluasa dan berani untuk memberikan ide, bertanya dan berpendapat tentang suatu materi dibandingkan ketika mereka berdiskusi dalam kelas tatap muka.<br />
•	Meningkatkan keterampilan komputer dan Internet. Lewat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran, maka secara tidak langsung, kemampuan dan keterampilan penggunaan teknologi akan ikut terasah.<br />
Nilai-nilai diatas inilah yang sepantasnya menjadi pertimbangan tersendiri dalam penerapan e-Learning di dalam homeschooling sebagai pendukung proses pembelajaran yang ada. Banyak nilai positif yang dapat diadopsi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam homeschooling.</p>
<p>Homeschooling</p>
<p>Istilah Homeschooling sendiri berasal dari bahasa Inggris berarti sekolah rumah. Homeschooling berakar dan bertumbuh di Amerika Serikat. Homeschooling dikenal juga dengan sebutan home education, home based learning atau sekolah mandiri. Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Memilih untuk bertanggungjawab berarti orangtua terlibat langsung menentukan proses penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan, kurikulum dan materi, serta metode dan praktek belajar (bdk. Sumardiono, 2007:4).<br />
Peran dan komitmen total orangtua sangat dituntut. Selain pemilihan materi dan standar pendidikan sekolah rumah, mereka juga harus melaksanakan ujian bagi anak-anaknya untuk mendapatkan sertifikat, dengan tujuan agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Banyak orang tua Indonesia yang mempraktekkan homeschooling mengambil materi pelajaran, bahan ujian dan sertifikat sekolah rumah dari Amerika Serikat. Sertifikat dari negeri paman Sam itu diakui di Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional) sebagai lulusan sekolah Luar Negeri (Kompas, 13/3/2005).<br />
Faktor-Faktor Pemicu dan Pendukung Homechooling<br />
Kegagalan sekolah formal<br />
Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu.<br />
 Teori Inteligensi ganda<br />
Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences) dalam buku Frames of Minds: The Theory of Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh Howard Gardner. Gardner menggagas teori inteligensi ganda. Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi (kecerdasan) manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga menjadi 9 jenis inteligensi manusia. Jenis-jenis inteligensi tersebut adalah:Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani; Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan Inteligensi eksistensial.<br />
Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi inteligensi yang dimiliki anak. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal sering kali malahan memasung inteligensi anak.<br />
(Buku acuan yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori Inteligensi Ganda, oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).<br />
 Sosok homeschooling terkenal<br />
Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya.<br />
Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.</p>
<p>Tersedianya aneka sarana<br />
Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).</p>
<p>Homeschooling vs Sekolah Umum</p>
<p>Model pendidikan yang paling terkenal dan diakui masyarakat adalah sistem sekolah atau pendidikan formal baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta. Sekolah umum seringkali dipandang sebagian orang lebih valid dan disukai.</p>
<p>Namun bagi sebagian orang, sistem sekolah umum merupakan sekolah yang tidak memuaskan bagi perkembangan diri anak. Sekolah umum menjadi kambing hitam atas output yang dikeluarkannya. Hal ini terlihat dari output pendidikan formal banyak menjadi koruptor, pelaku mafia peradilan, politisi pembohong, dan penipu kelas kakap. Alasan kekecewaan itulah memicu keluarga-keluarga memilih sekolah rumah alias homeschooling sebagai pendidikan alternatif.</p>
<p> Pada hakekatnya, baik homeschooling maupun sekolah umum, sama-sama sebagai sebuah sarana untuk menghantarkan anak-anak mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan. Namun homeschooling dan sekolah memiliki perbedaan.</p>
<p>Pada sistem sekolah, tanggung jawab pendidikan anak didelegasikan orang tua kepada guru dan pengelola sekolah. Pada homeschooling, tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya berada di tangan orang tua.</p>
<p>Sistem di sekolah terstandardisasi untuk memenuhi kebutuhan anak secara umum, sementara sistem pada homeschooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.</p>
<p> Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam untuk seluruh siswa. Pada homeschooling jadwal belajar fleksibel, tergantung pada kesepakatan antara anak dan orang tua.<br />
 Pengelolaan di sekolah terpusat, seperti pengaturan dan penentuan kurikulum dan materi ajar. Pengelolaan pada homeschooling terdesentralisasi pada keinginan keluarga homeschooling. Kurikulum dan materi ajar dipilih dan ditentukan oleh orang tua.</p>
<p>Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling<br />
Dari perbedaan di atas, kita dapat menyebutkan kelebihan homeschooling, antara lain: adaptable, artinya sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga; mandiri artinya lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan di sekolah umum; potensi yang maksimal, dapat memaksimalkan potensi anak, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan sekolah; siap terjun pada dunia nyata. Output sekolah rumah lebih siap terjun pada dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya; terlindung dari pergaulan menyimpang. Ada kesesuaian pertumbuhan anak dengan dengan keluarga. Relatif terlindung dari hamparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi, mencontek dan sebagainya); Ekonomis, biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. </p>
<p>Di sisi lain, homeschooling mempunyai kelemahan-kelemahan yang dapat disebutkan berikut ini: membutuhkan komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua; memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena orangtua harus bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak; keterampilan dan dinamika bersosialisasi dengan teman sebaya relatif rendah; ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi dan kepemimpinan; proteksi berlebihan dari orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi dan masalah sosial yang kompleks yang tidak terprediksi.</p>
<p>E.	Metodologi Penelitian<br />
Dengan studi literature dari berbagai sumber.</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>http://elearning.gunadarma.ac.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=13&amp;Itemid=39</p>
<p>http://gora.wordpress.com/2009/06/14/penerapan-e-learning-di-sekolah-tidak-sekedar-pengembangan-dan-implementasi-teknologi/</p>
<p>http://pormadi.wordpress.com/2007/11/12/homeschooling/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/07/02/pengembangan-e-learning-sebagai-media-pendukung-homeschooling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PRESENTASI</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/30/presentasi/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/30/presentasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 14:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[metode penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[presentasi]]></category>
		<category><![CDATA[flash]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
    <object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" id="swfobj_0" width="350" height="300">
      <param name="movie" value="http://ultimatebisnis.com/Presentasi%20Metlit_056690.swf" />
      <!--[if !IE]>-->
      <object type="application/x-shockwave-flash" data="http://ultimatebisnis.com/Presentasi%20Metlit_056690.swf" width="350" height="300">
      <!--<![endif]-->
        &lt;p&gt;presentasi.&lt;/p&gt;
      <!--[if !IE]>-->
      </object>
      <!--<![endif]-->
    </object>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/30/presentasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAJIAN MENGENAI E-READINESS TERHADAP KEBERHASILAN E-LEARNING</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/30/artikel-2/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/30/artikel-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 12:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[metode penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[E-Learning]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Tanggung jawab utama pendidikan tinggi adalah untuk menyiapkan mahasiswa agar  memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam lingkungan yang semakin kompetitif. Peran pendidikan tinggi tersebut memberikan pengaruh secara signifikan terhadap tingkat daya saing bangsa. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan peran pendidikan tinggi adalah kemajuan teknologi informasi yang mempengaruhi proses pendidikan atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendahuluan<br />
Tanggung jawab utama pendidikan tinggi adalah untuk menyiapkan mahasiswa agar  memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam lingkungan yang semakin kompetitif. Peran pendidikan tinggi tersebut memberikan pengaruh secara signifikan terhadap tingkat daya saing bangsa. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan peran pendidikan tinggi adalah kemajuan teknologi informasi yang mempengaruhi proses pendidikan atau sebagai media akses bagi pengetahuan.<br />
Untuk membantu kegiatan belajar mengajar maka berbagai infrastrukur TIK telah dikembangkan dan diadopsi oleh universitas. Hampir semua lembaga perguruan tinggi telah mengembangkan situs yang melayani informasi tentang lembaga, pendaftaran mahasiwa baru dan pengelolaan sumber belajar digital. Akses terhadap internet dipermudah dengan pelayanan fasilitas hotspot maupun koneksi internet kabel di lingkungan kampus.</p>
<p>Memahami E-Learning<br />
E-Learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dapat berperan sebagai media yang menyediakan interaksi antara staff pengajar dan mahasiswa, sumber belajar dan sarana untuk mengefisienkan evaluasi pembelajaran. TIK dapat dipandang secara positif sebagai media yang dapat membantu interaksi dan proses belajar mengajar.<br />
Ciri khas E-Learning adalah independent terhadap waktu dan ruang. Independent terhadap waktu memiliki arti bahwa pembelajaran dapat dilaksanakan kapan saja. Hal ini, lebih berkaitan dengan kemampuan TI untuk menyediakan bahan ajar dan menyimpan instruksi penbelajaran yang dapat diakses kapanpun. Independent terhadap ruang lebih terkait terhadap fasilitas E-Learning yang tidak membutuhkan tempat yang luas sebagaimana ruang kelas konvensional.<br />
Berdasarkan teori informasi, e-learning dapat dipandang sebagai aplikasi teknologi yang bersifat pragmatis. Aplikasi pada dimensi ini memerlukan infrastruktur lain yang mendukung. Aplikasi teknologi pada skala pragmatis tidak dapat berdiri sendiri.<br />
E-Learning sebagai sebuah aplikasi pada skala pragmatis memerlukan sarana pendukung yang perlu dikelola. Sarana pendukung tersebut dapat menjembatani teknologi informasi sebagai driver dan ourcome yang diharapkan. Sarana pendukung meliputi kemauan dan kemampuan yang dimiliki oleh organisasi dan staff pengajar serta mahasiswa.<br />
Staff pengajar dan mahasiswa adalah subjek dari e-learning. Subjek memiliki arti bahwa peran aktif dari staff pengajar dan mahasiswa yang menentukan keberhasilan e-learning. Peran aktif staff pengajar dapat diwujudkan dalam bentuk kemauan dan peningkatan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi informasi. Peran aktif mahasiswa dapat diukur dari kemauan dalam hal yang sama.</p>
<p>E-Readiness organisasi<br />
E-Readiness organisasi terdiri atas dimensi kemauan dan kemampuan untuk memanfaatkan TIK dalam konteks pembelajaran. Kemauan dapat diketahui dari E-Leadership dan budaya organisasi. Kemampuan organisasi dapat diketahui dari kemampuan mengelola TIK yang tersedia bagi pengembangan pembelajaran berbasis TI.<br />
E-Leadership merupakan upaya dan prioritas yang akan ditempuh organisasi di dalam mengantisipasi dan memanfaatkan kemajuan TI. Upaya dan prioritas ini terkait dengan visi dan misi organisas yang dapat secara jalas sesuai dengan konteks pewngembangan TIK. Upaya dan prioritas dapat diwujudkan dalam kebijakan yang mendudkung pemanfaatan TIK untuk pembelajaran.</p>
<p>Keismpulan dan saran<br />
Beberapa hal yang dapat disimpulkan adalah sbb:<br />
1.	E-learning merupakan aplikasi teknologi informasi yang bersifat pragmatis. Aplikasi teknologi yang bersifat pragmatis memerlukan dukungan infrastruktur dan superstruktur lain yang terkait dengan organisasi dan staff pengajar maupun mahasiswa.<br />
2.	E-Readiness staff pengajar dan mahasiswa dapat menjadi jembatan yang menghubungkan infrastruktur TI dan keberhasilan e-learning.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/30/artikel-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Blog dan pemanfaatannya sebagai media pembelajaran alternatif untuk membantu pencapaian keberhasilan siswa di sekolah</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/29/blog-dan-pemanfaatannya-sebagai-media-pembelajaran-alternatif-untuk-membantu-pencapaian-keberhasilan-siswa-di-sekolah/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/29/blog-dan-pemanfaatannya-sebagai-media-pembelajaran-alternatif-untuk-membantu-pencapaian-keberhasilan-siswa-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 12:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[metode penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[proposal]]></category>
		<category><![CDATA[alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yustina.blog.upi.edu/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[A.  Latar belakang
Tidak dapat dipungkiri digitalisasi semakin merambah ke semua bidang, termasuk bidang pendidikan. Dari situ muncullah istilah &#8220;Blog sebagai media pembelajaran?&#8217; Dari searching sana-sini, saya memang menemukan beberapa blog milik guru dengan topik pendidikan. Tapi, terus terang saya tak tahu pasti apakah blog-blog tersebut digunakan sebagai media pembelajaran.
Terlepas dari itu, menurut saya, blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.  Latar belakang<br />
Tidak dapat dipungkiri digitalisasi semakin merambah ke semua bidang, termasuk bidang pendidikan. Dari situ muncullah istilah &#8220;Blog sebagai media pembelajaran?&#8217; Dari searching sana-sini, saya memang menemukan beberapa blog milik guru dengan topik pendidikan. Tapi, terus terang saya tak tahu pasti apakah blog-blog tersebut digunakan sebagai media pembelajaran.<br />
Terlepas dari itu, menurut saya, blog punya potensi dikembangkan sebagai media pembelajaran. Setidaknya artikel dalam blog tersebut bisa memperkaya bahan ajar di luar proses belajar mengajar secara tatap muka. Selain itu, melalui blog, materi bisa tersaji lebih menarik. Sebab, bisa dilengkapi dengan grafis, ilustrasi/gambar/foto, video, dll. Karena dengan blog kita diajak untuk menulis dan membaca yang dewasa ini aktifitas tersebut semakin ditinggalkan orang.<br />
Dengan blog, proses belajar mengajar juga tetap bisa berlangsung meski guru sedang berhalangan memberikan pelajaran secara tatap muka di sekolah. Misalnya ketika ada tugas mengikuti penataran atau tugas tertentu. Ini bisa dilakukan antara lain melalui posting terjadwal.<br />
Di bawah ini adalah contoh blog yang berisikan artikel tentang pengetahuan seputar internet.</p>
<p>B.  Perumusan masalah<br />
• Apa manfaat blog?<br />
• Mengapa blog bisa menjadi media pembelajaran afternatif?<br />
C.  Tujuan penelitian<br />
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa, saja manfaat blog, mengajak kita agar menjadikan blog sebagai media pembelajaran. Agar membudayakan kembali menulis dan membaca.<br />
D.  Landasan teori<br />
Dalam menghadapi era globalisasi saat ini, setiap siswa diharapkan mampu menggunakan teknologi agar dapat mengikuti perkembangan zaman.<br />
Definisi Blog<br />
Blog berasal dari asal kata web log. Web artinya Internet, dan log artinya adalah catatan. Secara harfiah, blog bisa didefinisikan sebagai catatan harian yang ditulis dan dipublikasikan di internet. Sebenarnya tidak ada satu definisi yang pasti tentang blog. Terdapat banyak definisi tentang blog yang bertebaran di jagad Internet. Salah satu di antara definisi paling awal tentang blog adalah definisi blog oleh Rebecca Blood, pemilik blog www.rebeecablood.net dan penulis buku The Weblog Handbook,<br />
Blog adalah sebuah halaman web, dengan tulisan terbaru diletakkan di bagian isi paling atas, isinya sering diperbarui – kadang-kadang beberapa kali dalam sehari. Seringkali di sisi dari halaman web tersebut ada sebuah daftar link (tautan) yang merujuk ke halaman sejenis.<br />
Definisi blog menurut Ahmed Isnaini, pemiliki blog www.isnaini.com, blog atau weblog adalah catatan pribadi seseorang di internet. berisi informasi yang sering di update dan kronologis. blog lebih identik dengan sebuah diary. perbedaan mendasar adalah bahwa blog bisa dibaca siapa aja. banyak blog yang fokus terhadap satu objek informasi, misalnya politik, web design, olah raga dll. tapi kebanyakan blog itu lebih seperti jurnal pribadi yang berisi informasi perjalanan dan kehidupan sehari-hari seseorang blogger<br />
Sedangkan definisi blog menurut Priyadi Iman Nurcahyo, pemilik blog www.priyadi.net adalah:<br />
1. Berisi tulisan yang disusun secara kronologis<br />
2. Mengandalkan perangkat lunak CMS<br />
3. Memiliki fasilitas komentar<br />
4. Memiliki format sindikasi, misalnya RSS atau Atom<br />
5. Tulisannya dibuat dari sudut pandang pribadi penulisnya<br />
Dari tiga definisi itu, terdapat benang merah yang dapat diambil tentang definisi blog:<br />
a) Blog adalah sebuah halaman website<br />
b) Blog ditulis oleh perseorangan maupun kelompok dengan bahasa percakapan dan tidak formal<br />
c) Blog memiliki fasilitas yang memungkinkan pengunjung sebuah blog meninggalkan komentar<br />
d) Tulisan yang ada di dalam sebuah blog selalu diperbarui dalam jangka waktu tertentu<br />
e) Isi dari sebuah blog diurutkan menurut kronologis waktu, tulisan terbaru terletak di bagian paling atas.</p>
<p>Manfaat blog<br />
Blog berasal dari kata web-log yang artinya catatan di web. Seperti asal katanya, blog mempunyai manfaat utama sebagai media uniuk menyampaikan informasi. Baik yang silatnya pribadi, misalnya catatan harian, ataupun bisa juga digunakan untuk promosi. Blog juga dapat digunakan untuk menarik minas. Tujuannya adalah menarik orang untuk menuliskan pengalamannya. Namun, penggunaan blog di Indonesia masih terbatas. Masih belum maksimat. Blog yang baik sebenarnya bisa menimbulkan inspirasi bagi pembacanya. Muatan tulisan yang baik tentu bisa memberikan efek baik pula. Contohnya adalah nasihat atau pengalaman berharga. Melalui blog, kita juga bisa menjaring network, terutama dengan orang-orang yang punya ketertarikan dan hobi yang sama. Dari situ kita bisa bertukar pengalaman dan informasi.<br />
Roy Suryo<br />
Pakar Telematika</p>
<p>Media Pembelajaran<br />
Kata “media” berasal dari bahasa Latin “medium” yang berarti “perantara” atau “pengantar”. Lebih lanjut, media merupakan sarana penyalur pesan atau informasi belajar yang hendak disampaikan oleh sumber pesan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut (Rahardjo, 1986:47). Dalam kegiatan belajar¬mengajar, sumber pesan adalah guru dan penerima pesan adalah murid. Pada proses pembelajaran, media pengajaran merupakan wadah dan penyalur pesan dari sumber pesan, dalam hal ini guru, kepada penerima pesan, dalam hal ini siswa. Dalam batasan yang lebih luas, Miarso (dalam Rahardjo, 1986:48) memberikan batasan media pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga mendorong tedadinya proses belajar pads diri siswa. Sejalan dengan pendapat di atas, Ely (dalam Danim, 1994:13) menyebutkan manfaat media dalam pengajaran adalah sebagai berikut:<br />
a. Meningkatkan mutu pendidikan dengan cara meningkatkan kecepatan belajar (rate of learning), membantu guru untuk menggunakan waktu belajar siswa secara baik, mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi dan membuat aktivitas guru lebih terarah untuk meningkatkan semangat belajar<br />
b. Memberi kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan memperkecil atau mengurangi kontrol guru yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya serta memungkinkan mereka belajar menurut cara yang dikehendakinya.<br />
c. Memberi dasar pengajaran yang lebih ilmiah dengan jalan menyajikan/merencanakan program pengajaran yang logic dan sistematis, mengembangkan kegiatan pengajaran melalui penelitian, baik sebagai pelengkap maupun sebagai terapan.<br />
d. Pengajaran dapat dilakukan secara mantap karena meningkatnya kemampuan manusia untuk memanfaatkan media komunikasi, informasi dan data secara lebih konkrit dan rasional.<br />
e. Meningkatkan terwujudnya kedekatan belajar (immediacy learning) karena media pengajaran dapat menghilangkan atau mengurangi jurang pemisah antara kenyataan di luar kelas dan di dalam kelas serta memberikan pengetahuan langsung.<br />
f. Memberikan penyajian pendidikan lebih luas, terutama melalui media massa, dengan jalan memanfaatkan secara bersama dan lebih luas peristiwa¬peristiwa langka dan menyajikan informasi yang tidak terlalu, menekankan batas ruang dan waktu.</p>
<p>Keberhasilan Belajar<br />
Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa ditentukan oleh efektivitasnya dalam upaya pencapaian kompetensi belajar. UNESCO (1996) menetapkan empat pilar pendidikan yang barns diperhatikan secara sungguh¬sungguh oleh pengelola dunia pendidikan, yaitu:<br />
a. Belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan (learning to know)<br />
b. Belajar untuk menguasai keterampilan (learning to do)<br />
c. Belajar untuk hidup bermasyarakat (learning to live together)<br />
d. Belajar untuk mengembangkan diri secara maksimal (learning to be).<br />
a. Learning to know<br />
Dalam hal ini posisi seorang guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Di samping itu guru jugs dituntut untuk dapat berperan aktif sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.<br />
b. Learning to do<br />
Akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Pendeteksian bakat dan minat siswa dapat dilakukan melalui tes bakat dan minat (attitude test). Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan (heredity) namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pads lingkungannya. Dewasa ini, keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. Untuk An pembinaan terhadap keterampilan siswa perlu mendapat perhatian serius.<br />
c. Learning to live together<br />
Salah satu fungsi lembaga pendidikan adalah tempat bersosialisasi, tatanan kehidupan, artinya mempersiapkan siswanya untuk dapat hidup bermasyarakat. Situasi bermasyarakat hendaknya dikondisikan di lingkungan pendidikan. Kebiasaan hidup bersama, soling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan.<br />
d. Learning to be<br />
Pengembangan diri secara maksimal erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif peran guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan anak untuk mengembangkan diri pads tingkat yang lebih tinggi. Keempat pilar akan berjalan dengan baik jika diwarnai dengan pengembangan keberagamaan. Nilai-nilai keberagamaan sangat dibutuhkan bagi setiap warganegara Indonesia dalam menapaki kehidupan di dunia ini. Pengintegrasian nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkan/dipelajari siswa akan lebih efektif dalam pembentukan pribadi anak yang ber-Ketuhahan Yang Maha Esa daripada diajarkan secara monolitik yang penuh dengan konsep.<br />
E. Metode<br />
menggunakan metode kualitatif Artinya, metode ini memadukan analisis data-data dengan analisis kualitatif</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Karya Ilmiah<br />
Karya Tulis Ilmiah Oleh : MUHAMMAD ILMAN AKBAR Fakultas Ilmu Komputer UNIVERSITAS INDONESIA</p>
<p>Internet<br />
http://mfadil.blog.unej.ac.id/pemanfaatan-media-pembelajaran/ http://www.setvaputra.org/2008/11/03/Maiifaat-blog-menurut-pakar/http://labkomp-sman2bdg.blogspot.com/2008/11 /keberhasilan-belajar.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/29/blog-dan-pemanfaatannya-sebagai-media-pembelajaran-alternatif-untuk-membantu-pencapaian-keberhasilan-siswa-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGGUNAAN TIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN SEBAGAI PENDUKUNG KEBERHASILAN PROSES BELAJAR MENGAJAR</title>
		<link>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/26/artikel-1/</link>
		<comments>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/26/artikel-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 12:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>upi056690</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[metode penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[keberhasilan]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tik]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Budaya membaca bangsa kita khususnya generasi muda belum terlalu menggembirakan. Apalagi ketika kita bandingkan dengan budaya membaca bangsa lain. Setidaknya ini adalah data dari UNESCO tahun 2005 dalam melihat apresiasi para pembelajar dalam membaca. Gempuran media audio visual menyebabkan kita terlena dalam mendapatkan informasi. Kita menjadi cenderung pasif membaca. Membaca bagi rata-rata orang memang masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENDAHULUAN<br />
Budaya membaca bangsa kita khususnya generasi muda belum terlalu menggembirakan. Apalagi ketika kita bandingkan dengan budaya membaca bangsa lain. Setidaknya ini adalah data dari UNESCO tahun 2005 dalam melihat apresiasi para pembelajar dalam membaca. Gempuran media audio visual menyebabkan kita terlena dalam mendapatkan informasi. Kita menjadi cenderung pasif membaca. Membaca bagi rata-rata orang memang masih dianggap sebagai rutinitas yang membosankan. Bagi pelajar dan mahasiswa yang tidak terbiasa ‘bergaul’ dengan buku, kehadiran buku teks menjadi tantangan tersendiri untuk dikuasai. Hasilnya, walaupun level kegemaran membaca ini bukan salah satu faktornya, tingkat Human Development Index Indonesia masih bertengger di angka 100-an. Data yang dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP) mengenai Human Development Report tahun 2007/2008 menyatakan bahwa Indonesia memiliki HDI dengan urutan ke-107. Angka ini jauh dibawah negara tetangga seperti Malaysia, Brunei dan Singapura yang sudah termasuk dalam kategori High Human Development. Angka HDI ini sangat relevan untuk melihat sejauh mana tingkat melek huruf dan pendidikan.<br />
Rendahnya tingkat melek huruf, memang berkorelasi dengan tingkat partisipasi pendidikan Indonesia juga masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pendidikan tinggi kita masih di bawah 20 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding Malaysia dan Thailand yang mencapai 45 hingga 50 persen, Singapura dan Jepang mencapai 55 persen, sedangkan Korea mencapai 90 persen (Tempo Interaktif, 2009). Kenyataan ini tidak hanya terbatas pada perguruan tinggi, namun juga pendidikan menengah. Di antara beberapa faktor penyebab rendahnya angka partisipasi adalah infratruktur yang tidak sebanding dengan jumlah calon peserta didik.<br />
Bertolak dari hal tersebut, kini kita mendapatkan fakta yang boleh dibilang tidak berkorelasi positif dengan kondisi di atas, dimana demam TIK sudah mewabah tidak hanya di kalangan pendidik, namun juga masyarakat awam. Pemanfaatan TIK yang semakin luas ini tentu saja memerlukan perhatian dari semua pihak agar fokus pemanfaatan itu tidak hanya disekitar “fun, fashion, and entertainment”. Berfokus pada ketiga hal ini tentu terkesan “meninabobokan”. Diperlukan sisi lain untuk disentuh, dalam hal ini pendidikan. Sudah terdapat banyak sekali penelitian yang menyebutkan bahwa TIK dapat menjadi pendukung (enabler) bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. TIK memiliki peranan strategis disini untuk memperluas akses ke sumber-sumber informasi pendidikan.<br />
Upaya-upaya peningkatan kualitas serta kuantitas pendidikan telah dilakukan oleh pihak pemerintah, walau sampai saat ini hasilnya belum memuaskan.   Usaha yang dilakukan oleh pemerintah biasanya bersifat konstitusional demi mendapatkan lulusan dari sekolah yang kompetitif dan siap bersaing secara global, misalnya  dengan menetapkan angka batas minimal kelulusan UAN  (sebesar 4,25?).  Menurut saya, hal ini bukannya cara  memperbaiki mutu pendidikan melainkan justru nampak sepertinya  kita  hendak menjegal generasi kita.<br />
Apabila kita amati dengan seksama, apa sebenarnya yang menjadi inti permasalahan pada dunia pendidikan, mungkin jauh lebih sulit dari menggantang asap. Berbagai hal dapat saja dipersalahkan sebagai pokok masalah yang menghambat kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Namun demikian, yang jelas-jelas dapat kita temukan sebagai suatu kecacatan ialah proses belajar mengajar konvensional yang mengandalkan tatap muka antara guru dan murid, dosen dengan mahasiswa, pelatih dengan peserta latihan, bagaimanapun merupakan sasaran empuk yang paling mudah menjadi sasaran bagi suara-suara kritis yang menghendaki peningkatan kualitas pada dunia pendidikan. Ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini, sebab seiring dengan perkembangan zaman, pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun institut yang masih menggunakan sistem tradisional ini mengajar (di jenjang sekolah tinggi kita anggap memberikan informasi) dengan sangat lambat dan tidak seiring dengan perkembangan TIK. Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia. Karena sifat Internet yang dapat dihubungi setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi. Dengan perkembangan pesat di bidang teknologi telekomunikasi, multimedia, dan informasi; mendengarkan ceramah, mencatat di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman.</p>
<p>Penggunaan TIK Dalam Dunia Pendidikan<br />
Arti TIK bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan TIK ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan TIK untuk pendidikan memasuki milenium ketiga ini. Padahal penggunaan TIK  ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Paman Sam sana. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Amerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah satu bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia.   Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet sebagai media utamanya telah mampu memberikan kontribusi yang demikian besar bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan medasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi. Setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang memampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan Teknologi Informasi dan komunikasi yang menjadi kunci untuk menuju model sekolah masa depan yang lebih baik.</p>
<p>Tantangan Sekolah: Kendala Infrastruktur &amp; SDM<br />
Adalah menjadi rahasia umum bahwa akselerasi pemafaatan TIK di sekolah masih perlu dipercepat. Keinginan ini tentu bukan tanpa alasan, karena di era globalisasi yang serba cepat dan modern ini kita dituntut bias memanfaatkan TIK dalam hidup kita. Rata-rata infrastruktur dan SDM di sekolah memang masih minim untuk menangani akselerasi ini. Tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer yang memadai. 	Selain itu SDM sekolah yang diberi wewenang mengelola TIK terkadang tidak cukup, baik dari sisi jumlah maupun kompetensi. Tidak dipungkiri memang ada pihak manajemen sekolah yang patut diacungi jempol karena keinginan dan kepedulian kuatnya, berani ”mengimpor” SDM dari institusi lain untuk menangani TIK di lingkungannya. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian dan pekerjaan rumah bagi instansi terkait.<br />
Inisiatif pemanfataan TIK dalam pendidikan sebenarnya sudah berjalan cukup lama dan tidak hanya datang dari Pemerintah, tetapi juga dari masyarakat dan institusi swasta. Global Distance Learning Network (GDLN) Indonesia yang memiliki subcenter di Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Udayana, dan Universitas Riau sangat berpotensi untuk mendukung program distance learning. Belum lagi, Departemen Pendidikan Nasional melalui Pustekkom telah menyediakan infrastruktur jaringan yang menghubungkan antar-institusi di Indonesia melalui Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas).<br />
Jardiknas yang terbagi menjadi empat zona (zona perguruan tinggi –Inherent, zona sekolah, zona dinas, dan zona individu) sanggup merangkul institusi pendidikan hingga ke level kabupaten. Fasilitas Jardiknas sudah menjamin konektivitas antar-institusi bisa dilakukan. Kini sudah banyak perguruan tinggi negeri dan swasta sudah terhubung ke Inherent. Pada tahap awal saja, yaitu tahun 2006 telah terbangun interkoneksi 32 localnode yang berada di perguruan-perguruan tinggi di ibu-ibu kota propinsi di Indonesia dengan bandwith bervariasi mulai 1, 2, 8, hingga 155 Mbps! Data terakhir menunjukkan sudah terdapat 462 nodes untuk Intranet Diknas Kota/Kabupaten, 300 nodes untuk Zona Perguruan Tinggi, dan 93 nodes untuk ICT Center (PGSD) (www.jardiknas.diknas.go.id). Selain itu, Detiknas juga telah memasukkan e-Pendidikan sebagai salah satu Flagship Program TI nasional.<br />
Perkembangan pemanfaatan Internet sebagai media akses informasi merupakan modal dasar yang menggembirakan. Jumlah pemakai internet untuk di Indonesia terus meningkat. Menurut data dari APJII, pada tahun 2007 pemakai internet di Indonesia mencapai 25 juta orang, meningkat 25% dibanding tahun sebelumnya. Jumlah warnet juga semakin banyak. Menurut AWARI, pada awal tahun 2008 jumlah warnet di seluruh Indonesia sekitar 10.000, dan diperkirakan mencapai 12.000 di akhir tahun. Biaya warnet juga terus turun dari tahun ke tahun semakin memperluas peluang masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah untuk menggunakan internet.<br />
Hanya saja ”berlimpahnya” akses ke Internet tidak secara otomatis membantu sekolah dalam mendayagunakan TIK dalam pembelajaran. Masih perlu sentuhan dan pembimbingan dari pihak lain, baik individu maupun institusi. Dalam konteks inilah universitas dapat mengambil peran untuk meningkatkan akselerasi pemanfaatan TIK dalam proses belajar mengajar di sekolah.<br />
Dilihat dari sisi ”topografi”, keberadaan sekolah ternyata tidak terlalu jauh dengan keberadaan institusi perguruan tinggi baik yang negeri maupun swasta. Kalau kita telusuri lebih lanjut, ternyata institusi perguruan tinggi yang memiliki program studi berbasis TI tidak sedikit. Diantara institusi tersebut, sudah ratusan jumlahnya yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM). Institusi pendidikan TIK mampu menjadi lokomotif dalam meningkatkan akselerasi pemanfaatan TIK di sekolah.</p>
<p>Menyemai Program Kemitraan<br />
Pada tanggal 6 April 2009 yang lalu, Tim Esfindo (E-School for Indonesia) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia telah merilis sebuah mekanisme kerjasama kepada sekolah untuk mendayagunakan sistem pembelajaran online gratis. Fasilitas yang ada pada sistem ini meliputi fasilitas untuk komunikasi dua arah baik yang sinkronus maupun asinkronous, fasilitas manajemen pengguna, manajemen bahan ajar dan evaluasi. Dengan memanfaatkan sistem ini, pengguna mampu belajar dalam lingkungan belajar yang tidak jauh berbeda dengan suasana sebagaimana pembelajaran konvensional. Portal yang digunakan juga bukan sesuatu yang baru, diimplementasikan berbasis sistem open source, Moodle. Modifikasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan jenjang pendidikan. Tingkat sekolah menengah (K-12) memerlukan perhatian yang berbeda karena nature dari konten pendidikan dan karakteristik pelajar berbeda dengan universitas. Selain itu kemampuan TI baik pelajar dan guru masih bervariasi.</p>
<p>Hanya saja yang seharusnya lebih menjadi concern kita saat ini bukan pada jenis sistem apa yang dipakai, namun inisiatif apa yang sudah dilakukan berbagai pihak dalam pemanfaatan TIK ini. Inisiatif institusi yang mampu untuk memberikan layanan dan bimbingan terhadap institusi lain masih perlu ditumbungkembangkan. Universitas juga memiliki banyak ahli tidak hanya di bidang science, namun juga humaniora. Ini adalah modal penting untuk mengemas konten pendidikan yang berkualitas. Jalinan kerjasama juga dapat dilakukan antar konsorsium dosen dan guru (MGMP).<br />
Sistem pembelajaran online dapat digunakan untuk membantu proses transformasi paradigma pembelajaran dari teacher-centered menuju student-centered. Bukan lagi pengajar yang aktif “menyuapi” pembelajar dengan materi atau meminta siswa bertanya mengenai sesuatu yang belum dipahami, tetapi disini siswa difasilitasi untuk belajar secara kritis dan aktif. Sistem ini dapat juga dikemas untuk melangsungkan proses belajar mengajar dengan pendekatan kolaboratif (collaborative learning) maupun pemecahan masalah (problem-based learning).<br />
Akhirnya, upaya ini pada dasarnya hanya satu upaya dari sekian banyak upaya yang bisa dilakukan pihak universitas dalam membantu sekolah mendayagunakan TIK untuk meningkatkan akses para siswa terhadap konten dan aktivitas pembelajaran. Tentu saja ini juga bukan bentuk dukungan pertama kali dari pihak universitas kepada sekolah. Paling tidak inilah satu bentuk model yang bisa dilakukan untuk meningkatkan akselerasi TIK di bidang pendidikan kita.<br />
Usaha-usaha dari anak-anak bangsa juga terus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dalam hal penyampaian proses pendidikan dengan penggunaan TIK. Semisalnya, baru-baru ini Telkom, Indosat, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan IT untuk pendidikan di Indonesia, dimulai dengan proyek-proyek percontohan. Telkom menyatakan akan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas infrastruktur jaringan telekomunikasi yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung (backbone) bagi pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan serta implementasi-implementasi lainnya di Indonesia. Bahkan, saat ini Telkom mulai mengembangkan teknologi yang memanfaatkan ISDN (Integrated Sevices Digital Network) untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi jarak jauh (teleconference) sebagai salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh.<br />
Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan sebagai alasan-alasan untuk mendukung pengembangan dan penerapan IIK untuk pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia dengan sekian banyaknya pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang seringkali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk menjagokan pengembangan dan penerapan TIK  untuk pendidikan. TIK  sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab TIK  yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya diharapkan penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin di Indonesia.</p>
<p>IMPLIKASI TIK  DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA<br />
E-education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan IT di bidang Pendidikan. Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana kualitasnya?) Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat berupa Digital Library. Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.</p>
<p>A. Pemanfaatan TIK Bagi Institut Pendidikan<br />
Pesatnya perkembangan TIK , khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Dilingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan TIK  lainnya yaitu diwujudkan dalam suatu sistem yang disebut electronic university (e-University). Pengembangan e-University bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga perguruan tinggi dapat menyediakan layanan informasi yang lebih baik kepada komunitasnya, baik didalam maupun diluar perguruan tinggi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan materi kuliah secara online dan materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.<br />
Lingkungan Akademis Pendidikan Indonesia yang mengenal alias sudah akrab dengan Implikasi TIK  di bidang Pendidikan adalah UI dan ITB.  Di UI, misalnya, hampir setiap Fakultas telah memiliki jaringan yang dapat di akses oleh masyarakat, memberikan informasi bahkan bagi yang sulit mendapatkannya karena problema ruang dan waktu. Hal ini juga tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya. Contoh lain adalah Universitas Swasta Bina Nusantara juga memiliki jaringan Internet yang sangat mantap, yang melayakkan mereka mendapatkan penghargaan akademi pendidikan Indonesia dengan situs terbaik. Layanan yang disediakan pada situs mereka dapat dibandingkan dengan layanan yang disediakan oleh situs-situs pendidikan luar negeri seperti Institut Pendidikan California atau Institut Pendidikan Virginia, dan sebagainya.<br />
Pada tingkat pendidikan SMA implikasi TIK  juga sudah mulai dilakukan walau belum mampu menjajal dengan implikasi-implikasinya pada tingkatan pendidikan lanjutan. Di SMA ini rata-rata penggunaan internet hanyalah sebagai fasilitas tambahan dan lagi TIK belum menjadi kurikulum utama yang diajarkan untuk siswa. TIK  belum menjadi media database utama bagi nilai-nilai, kurikulum, siswa, guru atau yang lainnya. Namun prospek untuk masa depan, penggunaan TIK  di SMA cukup cerah.<br />
Selain untuk melayani Institut pendidikan secara khusus, adapula yang untuk dunia pendidikan secara umum di indonesia. Ada juga layanan situs internet yang menyajikan kegiatan sistem pendidikan di indonesia. situs ini dimaksudkan untuk merangkum informasi yang berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk menyajikan sumber umum serta jaringan komunikasi (forum) bagi administrator sekolah, para pendidik dan para peminat lainnya. Tujuan utama dari situs ini adalah sebagai wadah untuk saling berhubungan yang dapat menampung semua sektor utama pendidikan. Contoh dari situs ini adalah www.pendidikan.netDisamping lingkungan pendidikan, misalnya pada kegiatan penelitian kita dapat memanfaatkan internet guna mencari bahan atau pun data yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut melalui mesin pencari pada internet. Situs tersebut sangat berguna pada saat kita membutuhkan artikel, jurnal ataupun referensi yang dibutuhkan. Situs tersebut contohnya seperti google.com atau searchindonesia.com atau sumpahpalapa.netInisiatif-inisiatif penggunaan IT dan Internet di luar institusi pendidikan formal tetapi masih berkaitan dengan lingkungan pendidikan di Indonesia sudah mulai bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sudah ada adalah situs penyelenggara “Komunitas Sekolah Indonesia”. Situs yang menyelenggarakan kegiatan tersebut contohnya plasa.com dan smu-net.com</p>
<p>B.  TIK Sebagai Media Pembelajaran Multimedia<br />
Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh menempuh ruang dan waktu untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring dan mailing list. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Sulawesi dapat berdiskusi masalah teknologi komputer dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.<br />
Sharing information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.<br />
Virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 – 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan Virtual University ini adalah www.ibuteledukasi.com . Mungkin sekarang ini Virtual University layanannya belum efektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan Virtual University ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal Video Streaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpi-impikan oleh setiap ahli TIK  di dunia Pendidikan. Virtual School juga diharapkan untuk hadir pada jangka waktu satu dasawarsa ke depan.<br />
Bagi Indonesia, manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadi alasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan. Untuk merangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia:<br />
. Akses ke perpustakaan;<br />
. Akses ke pakar;<br />
. Melaksanakan kegiatan kuliah secara online;<br />
. Menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan;<br />
. Menyediakan fasilitas mesin pencari data;<br />
. Meyediakan fasilitas diskusi;<br />
. Menyediakan fasilitas direktori alumni dan sekolah;<br />
. Menyediakan fasilitas kerjasama;<br />
. Dan lain – lain.</p>
<p>C. Kendala-Kendala Pengimplikasian di Indonesia<br />
Jika memang TIK dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan TIK  dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini.<br />
Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia.<br />
Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitas untuk mengakses jaringan TIK  yang memadai. Padahal masih banyak institut-institut pendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT.Harapan kita bersama hal ini dapat diatasi sejalan dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih dan semakin murah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yustina.blog.upi.edu/2009/06/26/artikel-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
